Saturday, 26 April 2014

Logika Melawan Sabda[1]
Oleh: Mohammad Hanif Fikri[2]


A.    Pendahuluan

Segala puja dan puji syukur terucap hanyalah untuk-Nya. Tuhan yang tidak pernah mati dan memang takan pernah mati. Tuhan yang menciptakan akal namun tidak bisa dicapai dengan akal. Tuhan yang menciptakan logika namun tidak bisa dibahas dengan logika.  Tuhan yang Maha Mencipta tapi takan bisa dicipta. Tuhan yang menciptakan manusia tapi tidak bisa disamakan dengan manusia. Dialah Allah, Tuhan yang Maha Menguasai alam semesta. Semoga kita selalu berada dalam naungan Rahman dan Rahim-Nya. Amien ya Mujîbassâilin.

Kemudian shalawat dan salam teruntuk makhluk-Nya yang paling dicintai. Makhluk yang paling suci. Makhluk yang tidak ada duanya di muka bumi, bahkan di luasnya jagad raya ini. Kesuciannya tidak akan pernah tertandingi. Kemuliaanya tidak akan pernah turun dari tempat tertinggi, walaupun makhluk diseluruh dunia menghina dan mencaci. Beliau adalah Rasulullah Saw. sang pembawa cahaya Illahi. Semoga kita bisa berkumpul dan mendapat syafa’atnya di yaumil hisab nanti. Dan semoga kita bisa bertemu beliau di dunia lewat mimpi. Amien, amien ya Rabbal ‘Izzati.

Wahyu yang diturunkan oleh Allah Swt. merupakan kalam Illahi yang suci, begitu juga sabda Nabi yang telah diucapkan tidaklah keluar dari kehendak hawa nafsunya, melainkan sesuatu yang diilhamkan dari-Nya. Sabdanya bukan logikanya. Tapi bukankah permasalah bisa terselesaikan dengan baik dengan logika? Dan tanpa wahyupun manusia bisa hidup dan menjalani kehidupan di dunia? Lalu, bisakah logika menjadi sabda? Dalam memahami segala aspek dan problematika yang ada?

Pemahaman madzhab Mu’tazilah banyak sekali dipertentangkan oleh para ulama, karena selalu mengedapankan logika daripada al-Qur’an dan as-Sunnah. Golongan mereka selalu dianggap salah bahkan sesat dan menyesatkan. Tapi, bukankah mereka yang mengklaim bahwa golongan mu’tazilah itu sesat juga menggunakan logika? Jika mu’tazilah sesat, apakah mereka (golongan selain faham mu’tazilah) yakin kalau golongan mereka adalah golongan yang benar yang diridlai oleh-Nya? Jika benar, lalu apa buktinya?

Perbedaan pendapat memang seringkali kita ketemukan pada para ulama yang ingin mencari titik kebenaran. Tapi yang perlu diingat, kita tidak bisa mengklaim begitu saja bahwa pendapat ini salah dan pendapat inilah yang benar sebelum kita mengetahui dasar hukum yang mereka gunakan dalam berijtihad. Kebenaran hakikatnya hanyalah di sisi Allah. Dialah yang pantas menilai ini salah dan itu benar. Oleh karenanya, alangkah baiknya sebelum kita mengatakan golongan ini salah atau benar, setidaknya kita mengetahui sedikit yang membuat mereka berpendapat seperti itu. Dan melalui makalah yang sangat sederhana ini, mudah-mudahan kita bisa mengetahui yang sedikit itu. Amien ya Rabbal ‘Alamin.


B.     Asal usul faham Mu’tazilah

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh golongan mu’tazilah, alangkah lebih baiknya kita sedikit mengetahui asal mula lahirnya faham mu’tazilah tersebut.

Di makalah ini penulis tidak akan menyebutkan banyaknya pendapat mengenai sebab-sebab kenapa aliran ini dinamakan Mu’tazilah. Penulis hanya akan mengemukakan pendapat yang dianggap paling benar dan sesuai.

Lahirnya aliran mu’tazilah tidak terlepas dari peristiwa berbeda pendapatnya seorang murid yang bernama Wâshil bin ‘Atho terhadap gurunya Hasan al-Bashri pada abad ke-2 Hijriyah mengenai munculnya masalah bagaimana hukum orang yang melakukan dosa besar (dosa besar di bawah syirik). Apakah ia dihukumkan sebagai Kafir seperti yang dikemukakan oleh kaum Khawarij, atau ia masih dikatakan sebagai orang Mukmin seperti yang diutarakan oleh kaum Murji’ah?

Ada suatu riwayat: (Suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada Al-Hasan Al-Bashri seraya berkata: “Wahai imam dalam agama, telah muncul di zaman kita ini kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik). Dan dosa tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama, mereka adalah kaum Khawarij. Sedangkan kelompok yang lainnya sangat toleran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam madzhab mereka, suatu amalan bukanlah rukun dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah Murji’ah umat ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar kami bisa menjadikannya sebagai prinsip (dalam beragama)?”. Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut. Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha’ berseloroh: “Menurutku pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia juga tidak kafir, tapi ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir”. Lalu ia berdiri dan duduk menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menyatakan pendapatnya tersebut kepada murid-murid Hasan Al-Bashri lainnya. Maka Al-Hasan Al-Bashri berkata: (I’tazala ‘annâ wâshil) “Washil telah memisahkan diri dari kita”, maka disebutlah dia dan para pengikutnya dengan sebutan Mu’tazilah.[3] Dan dalam arti etimologi Mu’tazilah bermakna: Orang-orang yang memisahkan diri. Sebab inilah para pengikut aliran ini disebut Mu’tazilah, karena Wasil bin Atha’ memisahkan diri dari yang lainnya.

C.     Af’âlul ‘Ibâd

Segala perbuatan seorang hamba menurut Mu’tazilah adalah usahanya sendiri, bahkan hamba itu sendiri yang menciptakan perbuatannya, baik ataupun buruknya. Karena jika perbuatan itu adalah ciptaan Allah, berarti Allah juga yang menciptakan keburukan. Berarti Allah itu buruk juga zhalim, padahal Allah itu tidak zhalim kepada hamba-hamba-Nya, melainkan Allah itu sangat Agung dan Mulia.

Mereka berpendapat jika ada orang yang mengatakan bahwa Allah yang menciptakan perbuatan, maka itu adalah kesalahan yang besar.

Dan ta’wil mereka terhadap Firman Allah ta’ala yang berbuyi: خالق كل شيئ[4]dan خلق كل شيئ[5]  meciptakan disini bermaksud menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, manusia dan jin, dan semisalnya dan bukan bermaksud menciptakan kekafiran, kezhaliman dan kebohongan. Dan tidak boleh Allah itu zhalim dan bohong.[6] Karena jika begitu, maka otomatis Allah itu zhalim? Padahal Allah tidaklah berbuat zhalim, tapi manusia sendirilah yang menzhalimi diri mereka sendiri. Suatu pensucian yang sangat agung kepada Allah yang dilakukan oleh Mu’tazilah ini. Mereka tidak mau Tuhan yang sangat Agung itu menjadi rendah ataupun hilang keagungan-Nya dengan mengatakan Allah juga yang menciptakan kezhaliman dan hal buruk lainnya.

Namun, pasti banyak yang akan bertanya, dimana ke-Maha Kuasa-an Allah atas menciptakan seluruh sesuatu di dunia ini? Jika benar seperti itu, berarti manusia juga sebagai pencipta? Darimana manusia mendapatkan kemampuan untuk menciptakan perbuatan itu?

Disinilah cantik dan pintarnya kaum Mu’tazilah, manusia memang menciptakan perbuatan itu, tapi tidak mempunyai kemampuan dalam berbuat. Oleh karena itu Allahlah yang memberikan manusia itu sebuah kemampuan untuk berbuat. Jadi, dengan kemampuan yang diberikan oleh Allah itulah manusia bisa menciptakan perbuatannya. Karena suatu hal yang sangat aneh jika manusia harus bertanggung jawab atas apa yang memang bukan kehendaknya, tapi kehendak-Nya. Seperti yang dikatakan oleh aliran Jabariyah bahwa manusia atau hamba hanyalah seperti robot atau boneka Tuhan yang perbuatannya itu sudah diciptakan oleh Allah Swt. Manusia hanyalah menjalankan skenario yang diberikan oleh-Nya. Berarti pendapat semacam ini seolah-olah mengatakan manusia itu disiksa karena kehendak-Nya dan diberi pahala karena kehendak-Nya. Manusia hanyalah mainan yang tidak bisa melakukan apa-apa terhadap keinginan Penciptanya. Mana mungkin orang yang tidak melakukan sesuatu harus bertanggungjawab atas apa yang bukan mereka lakukan? Sungguh suatu kezhaliman jika seperti itu. Dan inilah yang sangat tidak diinginkan oleh kaum Mu’tazilah kalau Allah melakukan kezhaliman.

Mu’tazilah menafikan iradatullah untuk keburukan ataupun kekafiran dengan Firman Allah ta’ala yang berbunyi:

وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون[7]

Az-Zamakhsary berkata bahwa sesungguhnya Allah menginginkan hambanya itu untuk memilih dalam beribadah bukanlah sebagai paksaan terhadap mereka.

Dan Allah juga berlepas diri dari kaum musyrikin sebagaimana Firman-Nya:

ان الله برئ من المشركين و رسوله[8]

Ini menunjukan bahwa ada kaitan antara yang berbuat dengan yang menjadi tanggungjawabnya. Karena tidak boleh Allah berlepas diri dari mereka karena kesyirikan mereka kecuali jika mereka sendiri yang berbuat kepada kesyirikan tersebut.[9]

Dan Firman-Nya yang berbunyi:

والله لا يحب الفساد[10]

Karena Allah tidak menyukai kerusakan, maka Allah bukan pencipta kerusakan. Oleh karenanya, manusialah yang menciptakan kerusakan. Disini bukan berarti Mu’tazilah merendahkan Allah karena Allah bukanlah pencipta segalanya, melainkan mereka tidak ingin Allah itu dipandang rendah, hina atau zhalim. Dengan pendapat mereka ini malah mereka mensucikan Allah karena dengan apa yang mereka kemukakan bahwa Allah itu tidak menciptakan kezhaliman yang berarti Allah itu tidak zhalim. Dan mereka tidak mengenal sosok Tuhan yang zhalim.

D.    Ru’yatullah

Melihat adalah suatu kenikmatan yang luar biasa yang diberikan Allah untuk manusia. Tapi apakah semua objek bisa dilihat dengan mata manusia?

Golongan Mu’tazilah berpendapat adalah suatu hal yang mustahil bisa melihat Allah baik itu di dunia maupun di akhirat. Mereka mengambil dalil dalam al-Qur’an yang berbunyi:

[11]الْخَبِيرُ اللَّطِيفُ وَهُوَ اْلأَبْصَارَ يُدْرِكُ وَهُوَ اْلأَبْصَارُ تُدْرِكُهُ لَا

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Teliti”.

Lafadz الإدراك  menurut mereka adalah sama dengan Ru’yah. Karena lafadz الإدراك  tersebut jika diiringi dengan البصر  maka artinya adalah ru’yah yaitu melihat.

Al-Qadli Abdul Jabbar berkata bahwa melihat –Allah– dengan penglihatan itu adalah hal yang mustahil.[12]

Dan melihat itu berarti menetapkan jism. Jika begitu berarti kita menyerupai Allah dengan makhluknya yang berjism. Hal ini adalah mustahil bagi Allah, karena kita tidak boleh menyamakan Allah dengan makluk-Nya. Sebab hal ini bisa menyebabkan kekafiran.

Firman Allah ta’ala dalam al-Qur’an yang berbunyi:

قال رب أرنى أنظر إليك قال لن ترانى[13]

“Musa berkata: “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau”, Allah berfirman: “Kamu tidak akan (sanggup) melihatku”

Di sini jelas bahwa ayat ini menggunakan lafadz لن  yang berarti tidak akan dan juga sebagai penta’kidan bahwa Allah tidak akan bisa dilihat selamanya, baik itu di dunia maupun di akhirat.[14]

E.      Epilog

Tidak ada yang sempurna di dunia ini, dan memang tidak akan ada yang bisa sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Dzat yang Maha Sempurna. Oleh karenanya penulis memohon maaf jika terdapat kesalahan ataupun kekurangan dalam menyajikan permasalahan Af’alul ‘ibad dan Ru’yatullah dalam pandangan Madzhab Mu’tazilah di dalam makalah yang sangat sederhana ini.

Dan penulispun menekankan bahwa penulis tidak bermaksud mendukung aliran Mu’tazilah karena dalam makalah ini penulis tidak mendatangkan bantahan-bantahan atas pendapat yang dikemukakan oleh aliran Mu’tazilah. Bukan karena itu, tapi lebih kepada kesadaran dan kemauan kita dalam mencari tahu atau menggali lebih dalam kepada aliran-aliran yang bertentangan dengan pendapat Mu’tazilah.

Tidak ada gading yang tak retak, sekali lagi penulis pribadi memohon maaf jika terdapat kesalahan tulisan maupun kekurangan dalam menyajikan. Inilah seorang hamba dengan segala keterbatasannya. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita semua terhadap kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, baik yang disengaja maupun tidak, dan semoga kita selalu berada dalam petunjuk-Nya juga selalu dalam bimbingan-Nya dalam menjalani kehidupan di dunia ini, Amien ya Hayyu ya Qayyum.

Wallâhu a’lam bi ash-Shawâb


Kepustakaan

Al-Quran dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, al-Huda, Jakarta-Indonesia, 2005.
Adl-Dluwaihi, Ali bin Sa’ad bin Shâlih, Dr., Arâ’ul Mu’tazilah al-Ushûliyah, Maktabah ar-Rusyd, Riyad-Saudi, 2000.
Al-‘Umruji, Ahmad Syauqi Ibrâhim, al-Mu’tazilah fi baghdâdi wa atsaruhum fi al-Hayâti al-Fikriyyati wa as-Siyasiyati, Maktabah Madbûli, Kairo-Mesir, 2000.
Faragli, Ali Ma’bad, Min ‘Aqâid at-Tauhid, Maktabah Dar ath-Thibâ’ah al-Muhammadiyah, Kairo-Mesir, 2000.
Az-Zamakhsyari, Abi al-Qâsim Jârullah Mahmud bin Umar, al-Kasysyaf, Maktabah Misr, Kairo-Mesir,
Al-Bâjûri, Burhanuddin Ibrâhim, Tuhfatul Murîd ‘ala Jauharah at-Tauhîd, Dar as-Salam, Kairo-Mesir, 2008.
Al-Baghdâdi, Abu Mansûr Abdul Qâhir bin Thâhir bin Muhammad, al-Farqu baina al-firaq, Dar ath-Thalâi’, Kairo-Mesir, 2005.




Kajian Pemikiran
Departemen Intelektual IKPMA
Ahad, 11 April 2010





[1] Judul ini tidak membahas semua permasalahan yang berkaitan tentang logika, tapi lebih membahas permasalahan Ru’yatullah dan Af’alul ‘Ibad menurut madzhab Mu’tazilah yang notabene menggunakan logika
[2] Seorang penuntut ilmu di Universitas al-Azhar, Tafahna-Mesir. yang selalu tertatih-tatih dalam meraih ilmu dan ridla-Nya.
[3] Lihat Milal wa an-Nihal, 1/48.
[4] QS. Al-An’am: 102
[5] QS. Al-Furqan:2
[6] Lihat Syarhul Ushul al-Khamsah, hal. 358.
[7] QS. Adz-Dzariyat:56
[8] QS. At-Taubah:3
[9] Al-Qadli Abdul Jabbar, al-Mughni, juz 8, hal. 263.
[10] QS. Al-Baqarah:205
[11] QS. Al-‘An’am:103
[12] Lihat al-Mukhtashar fi Ushul ad-Din, 1/220.
[13] QS. Al-A’raf:143
[14] Lihat al-Kasysyaf, Juz 2, hal. 198.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -