Thursday, 3 July 2014

Kesuksesan studi di Universitas Al-Azhar

Sejarah Pendidikan

“Mengalir mengikuti jenjang pendidikan saja” beberapa petikan ucapan beliau ketika ditanya tentang pendidikannya. Pria kelahiran Jakarta, 18 Agustus 1971 ini sebenarnya tidak pernah membayangkan akan menjadi mahasiswa Universiatas Al-Azhar seperti sekarang ini. Semasa kecilnya ia memang sudah giat belajar dibeberapa lembaga pendidikan, semasa tingkat dasar misalnya, ia belajar pada tiga tempat, pagi hari ia belajar di Sekolah Dasar, siang harinya belajar di Madrasah Ibtidaiyyah, dan sore harinya ia sempatkan untuk mengaji al-Quran. Setelah menyelesaikan tingkat dasarnya, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Modern Gontor selama 6 tahun. Selesai di Gontor ia terpikir untuk melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi, namun sebelum ia masuk ke perguruan tinggi ia sempatkan mengaji untuk memperdalam al-Quran dahulu di Ma’had Aly di Bangil. Lalu ia pun terpikir harus banyak tahu lagi tentang al-Quran dan untuk melengkapi pengetahuan tentang al-Quran, ia lanjutkan studinya di Ponpes Sunan Pananarang-Jogjakara, setelah selesai, Kyainya pun berpesan kepadanya untuk melanjutkan ke Cairo saja, mengambil fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir. Namun sebenarnya dalam hati nuraninya ia mempunyai dua keinginan antara melanjutkan ke Cairo atau ke Madinah, di Madinah ia ingin masuk Kuliyyah al-Quran, tetapi ketika itu calon mahasiswanya dibatasi dari Indonesia. Tak bisa melanjutkan di Madinah, hanya ada satu pilihan melanjutkan di Cairo, di sana yang sesuai dengan bidang beliau adalah Universiatas al-Azhar.

Semasa belajar di al-Azhar

Tentang cara belajarnya di Cairo ini, Pria yang sudah mendapat gelar Doktor pada tanggal 06 Maret 2006 hanya berusaha untuk “belajar dengan serius”, dari belajarnya tak banyak yang ia targetkan. Pada tingkat satu misalnya, ia memiliki target untuk mengetahui standar kemampuan. Menurutnya mengukur kemampuan dalam belajar, kemampuan dalam memahami buku sangat penting sekali guna untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Pada tingkat satu ini yang ketika itu ujian hanya dilakukan dalam satu term saja, ia mendapat peringkat Jayyid Jiddan yang pada masa itu cukup dibilang langka, bayangkan saja dari 2600 mahasiswa Indonesia hanya 2 orang saja yang mendapat nilai Jayyid Jiddan, salah satunya adalah ia sendiri. Semasa tingkat satu ini ia fokuskan untuk belajar saja, ia belum mau menyibukkan dirinya di organisasi. Namun pada tingkat dua ia mulai menyibukkan dirinya di organisasi-organisasi yang ketika itu belum begitu banyak seperti sekarang ini. Perjalana organisasi ini berlanjut terus hingga tingkat empat. Selesai S1 seluruh organisasi yang ia aktif didalamnya ia tinggalkan karena  ingin melanjutkan ke Strata 2, selain itu tamhidi S2 ini menurutnya sangat sulit sekali. Tetapi alhamdullillah tahun pertama ia lulus tamhidi yang waktu itu satu kelas berjumlah 30 orang, namun yang lulus hanya 3 oarang. Tahun ke 2 jadi hanya 3 oarang namun akhirnya yang satu orang mafshul. Pada  1998 ia putuskan untuk balik sementara ke tanah air selama 8 bulan lamanya, ia kembali lagi ke Ciro sekitar bulan Mei 1999. Pada bulan November 2000 ia sudah menyelesaikan Risalah Majisternya. Ia menikah pada bulan Oktober 2000 sebulan sebelum ia menyelesaikan risalahnya. Tak puas dengan strata 2nya ia melanjutkan Strata 3nya di Universitas yang sama, Al-Azhar. Semasa S3 sudah sebanyak 7 proposal yang ia ajukan dan selalu ditolak dan menempuh waktu selama kurang lebih satu setengah tahun. Namun ia tak putus asa, akhirnya pada proposal yang ke 8 ini diterima yang bertepatan pada September 2002. selama menulis Risalah Dukturohnya ini ia tempuh kurang lebih 3 tahun lamanya, yang ia selesaikan pada bulan September 2005. menurutnya satu tahun menghasilkan satu jilid karena Risalah Dukturohnya kali ini sebanyak 3 jilid dengan tebal halaman sebanyak 1413 halaman.

Pendapatnya tentang perbedaan Masisir sekarang dengan Masisir pada zamannya

“Setiap masa tantangannya pasti berbeda” begitulah ia awali jawabannya ketika di tanya tentang perbedaan Masisir sekarang dengan Masisir pada zamannya. Dari segi akademis ia memberikan beberapa perbandingan, misalnya; perbedaan sistem ujian. Dahulu ujian hanya ditempuh dalam satu term saja, kelebihannya adalah panjangnya limit waktu untuk mempelajari satu muqoror, jadi untuk lebih memperdalam materi-materi yang ada di muqoror ada waktu yang cukup panjang, serta adanya Shuhbah Ustadz, karena masa muhadloroh lebih banyak, tapi ada kekurangannya juga; timbulnya kejenuhan disebabkan dengan lamanya masa imtihan yang kurang lebih memakan waktu satu-dua bulan. Namun beberapa tahun kemudian sistem satu term ini dirubah menjadi dua term, kelebihan dari dua term ini adalah kemudahan dalam ujian, karena dalam satu term hanya ada setengah dari jumlah maddah yang ada, sisanya dilanjutkan pada term selanjutnya, tapi kekurangannya adalah singkatnya waktu memperdalam materi muqoror, yang digarap dalam jangka waktu satu-dua bulan saja. Selain faktor akademis ia menambahkan perbedaan antara Masisir sekarang dengan Masisir pada zamannya adalah faktor teknologi dan informasi yang sudah menjamur; misalnya kebanyakan Masisir sekarang tergoda dengan “chattingan”, film-film mudah didapat, sehingga kesempatan menonton pun terbuka luas. Namun secara umum ia memberikan gambaran perbedaan bahwa Masisir sekarang lebih bagus dari dahulu dari segi prestasi akademis, karena prestasi kelulusan Masisir sekarang lebih bagus, mungkin karena dibantu dengan dua term sehngga banyak yang mendapatkan nilai bagus.

Management Al-Azhar

Beberapa asumsi yang masuk tentang Al-Azhar adalah “walaupun ada kekurangan, tetapi kenapa Al-Azhar masih banyak diminati orang?”. Menanggapi asumsi ini, ia berpendapat bahwa jangan memandang Al-Azhar secara negatif saja, kalau kita memandang secara positif banyak sekali hal-hal yang bisa kita ambil. Jangan selalu negative thinking sehingga sesuatu yang menjadi objek pandangan kita seluruhnya jelek. Menanggapi masalah muqoror yang beberapa tahun ini memakai basis turots, ia berpendapat bahwa sebenarnya muqoror pasti referensinya adalah buku-buku turots, namun permasalahannya sekarang adalah hanya perbedaan langsung atau tidak. Muqoqor yang tidak lansung berformat turots adalah dari penjabaran dosen langsung, sehingga subyektifitas dosen agak kelihatan. Tetapi selain itu faktor perubahan dari turots tak langsung kepada turost langsung diakibatkan karena pergantian rektor  pada tahun 2004, rektor baru Dr. Ahmad Thoyyib menggulirkan beberapa materi ke buku turots langsung. Alasan pengguliran itu adalah menghindari subyektifitas dari dosen yang menjabarkan materi muqoror tersebut. Selain itu, untuk membiasakan mahasiswa berhadapan dengan turots langsung, karena mahasiswa sekarang kurang memahami turots, karena mereka mungkin terbiasa dengan sesuatu yang instant sehingga hal ini pasti akan menimbulkan kemalasan.

Pesan untuk Masisir

Ketika diminta untuk memberikan pesan untuk Masisir, ia berpesan agar kita bisa mengukur kemampuan diri masing-masing dalam belajar, kemampuan bahasa arab, kemampuan tulis menulis, serta kemampuan berinteraksi dengan sosial. Selain itu ia menganjurkan kepada masisir untuk meningkatkan kemampuan bahasa khususnya bahasa arab, baik dari bahasa pasif atau literatur sebagai pemahaman teks-teks buku, serta bahasa aktif sebagai alat komunikasi. Menurutnya bahasa sangat penting sekali apalagi untuk komunikasi, dari realitas yang ada ternyata masih banyak mahasiswa yang belum bisa berkomunikasi sehari-hari padahal mereka sudah berada dalam komunitas orang-orang arab. Terakhir ia berpesan agar pandai-pandai dalam mengatur waktu, tiada kesuksesan tanpa jerih payah dan pengaturan waktu yang tepat, serta jika ingin melakukan sesuatu lakukanlah yang terbaik dan jangan menunggu hasil, ikuti saja dengan ikhlas. Wallahu a’lam.


Sumber: Kreasi 2006-2007

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -