Friday, 31 March 2017

Oleh; Fairuzzimaami


اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإســلام دينا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnkan kepadamu nukmat-ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Al-Ma’idah : 3)

Siapa yang tidak mengenal dengan sosok manusia pembawa dan pencerah terhadap peradaban manusia? Beliau adalah makhluk yang mulia, yang kemuliannya dimuliakan oleh yang Maha Mulia. Beliau adalah orang besar, yang kebesarannya dibesarkan oleh yang Maha Besar. Beliau adalah pribadi yang sempurna, yang kesempurnaannya disempurnakan oleh yang Maha Sempurna. Siapa lagi kalau bukan Nabi Muhammad Saw..

Di dalam al-Quran, hadits, âtsar sahabat banyak menjelaskan betapa sempurnanya nabi junjungan kita. Baik dari sisi berucap maupun bersikap, Baik khilqiyah maupun khuluqiyah, juga cara berdakwah maupun mu’amalah. Allah Swt. berfirman:

لقد كان لكم في رسول لله أسوة حسنة
“sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Saw. itu suri teladan yang baik bagimu” (Al-Ahzab : 21)


Ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw., Sayyidah Aisyah Ra. mengatakan:
كان خلقه القران
“Akhlak beliau ialah Al-Quran.” (H.R Ahmad)

Banyak sahabat Nabi Muhammad Saw. yang jatuh hati karena keelokan budi pekerti beliau, karena sang teladan cakap dalam berucap dan bersikap, juga dalam dakwah dan muamalah. Mereka menginginkan hari-harinya selalu bersama Rasulullah Saw..

Ada sebuah kisah tentang seorang pedagang minyak wangi di Madinah, setiap kali pergi ke pasar dia singgah dahulu ke rumah Rasulullah Saw., ia menunggu sampai Rasulullah Saw. keluar. Setelah Rasulullah Saw. keluar dia hanya mengucapkan salam lalu memandang Rasulullah Saw. saja, kemudian setelah puas ia pergi. Suatu hari setelah ia bertemu Rasulullah Saw. dan ia pergi, lalu tak lama kemudian ia balik lagi dari pasar, ia datang kepada Rasulullah Saw. kemudian meminta izin, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah Saw., karena saya takut tidak dapat melihatmu lagi.”

Dari kisah ini kita bisa mengambil sebuah ibrah, merupakan fitrah manusia ingin hidup lebih lama dengan orang terkasih baik keluarga, kerabat, teman, sahabat, atau seseorang yang menempatkan dirinya lebih dari sahabat.
Adalah sunnatullah tak ada pertemuan yang tak berakhir dengan perpisahan. Sebagaimana yang dialami pedagang minyak wangi dan kita tentunya pasti mengamini sunnatullah ini.

Hari demi hari, minggu bertemu minggu, bulan terus berganti dan tahun terus berjalan, sahabat hidup bersama sang teladan. Mereka mengais serpihan-serpihan hikmah dari kepribadiannya yang mulia. Hingga pada tanggal 25 Dzulqaidah tahun 10 Hijriyah, Rasulullah Saw. berangkat menunaikan haji bersama semua istrinya dan diiringi ribuan pengikutnya. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai jumlahnya, ada yang menyebutkan 90 ribu orang, dan adapula yang menyebutkan 114 ribu orang. Mereka berangkat dibawa oleh iman, hati mereka penuh kegembiraan dan penuh keikhlasan menuju ke Baitullah yang suci.

Haji itu dinamakan ‘Haji Wada’ (perpisahan) atau ‘Haji Islam’  atau ‘Haji Penyampaian’.

Disebut ‘Haji Wada’ karena waktu itu adalah terakhir kali Nabi Muhammad Saw. melihat Mekah dan Ka’bah. Haflah hari ini adalah ‘Haflatul Wada’ karena mereka akan meninggalkan Jâmi’ (Masjid) dan Jâmi’ah  (Universitas) Al-Azhar.

Disebut ‘Haji Islam’  karena Allah Swt. telah menyempurnakan agama ini kepada umat manusia dan mencukupkan pula nikmat-Nya. Haflah pada hari ini bisa disebut dengan ‘haflatul Islam’  karena mereka telah        menyelesaikan masa studi-nya serta cukup keilmuannya yang telah diperoleh dari para masyayikh di Jâmi’  dan Jâmi’ah Al-Azhar.

Juga disebut ‘Haji Penyampaian’ yang berarti Nabi Muhammad Saw. telah menyampaikan kepada umat manusia apa yang telah diperintahkan Allah Swt.. Haflah hari ini bisa dibilang ‘Haflah Penyampaian’. karena sudah waktunya mereka menyampaikan apa yang telah mereka dapat selama menempuh pendidikan di Al-Azhar.

--------------------------------------------------


“Haji” nya seorang pelajar adalah ke Azhar.


Ibadah Haji adalah panggilan Allah, begitupun kuliah di Al-Azhar tidak semua orang bisa mendapat kesempatan istimewa ini. Hanya bagi yang bertekad kuat, banyak berdo’a dan berusaha dengan maksimal yang mendapatkan kesempatan.

Ada sekian ribu orang setiap tahunnya yang bercita-cita kuliah di Al-Azhar, tapi hanya beberapa orang yang beruntung. Ada yang keinginannya menggebu-gebu, tapi ternyata tidak mendapatkan restu dari orang tua. Misalnya karena anak bungsu atau anak sulung yang harus menemani orang tua, dan alasan-alasan lain. Ada yang keinginannya menderu-deru dan  restu sudah didapat, tapi ketika diuji ia tak lolos. Ada lagi yang sudah beruntung dan lulus ujian, tapi entah kenapa ekonomi orang tua bermasalah sehingga ia gagal pergi ke negeri Kinanah. Kalau bukan rezekinya, bagaimanapun caranya tak akan dapat, maka bersyukurlah bagi yang mendapatkannya.

Ibadah haji memiliki prosedur tersendiri, jika ditinggalkan tak akan sah ibadah Haji tersebut. Diantara prosedur yang harus dilakukan:

Pertama; Ihram, secara harfiah berarti melarang atau mencegah. Kegiatan Ihram ini melarang seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji melakukan segala perbuatan yang telah diatur dan ditetapkan dalam ilmu fikih, seperti berburu, memakai minyak wangi dan lain sebagainnya.

Begitupun bagi seorang pelajar, ada hal-hal yang telah diwasiatkan oleh para ulama agar dihindari, seperti makan makanan yang makruh, melakukan maksiat, dan lain sebagainnya.


Kedua; Wukuf, secara harfiah berarti berdiam diri atau berhenti. Wukuf di Padang Arafah merupakan ritual terpenting yang yang wajib dilakukan jamah haji mulai dari tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbenam matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Yang sangat dianjurkan ketika wukuf di Arafah adalah memperbanyak berdzikir dan berdo’a kepada Allah Swt.. Maka “Wukufnya” seorang pelajar Al-Azhar ialah selalu menghidupi waktu malamnya dengan banyak berdo’a, berdzikir dan qiyamullail.


Ketiga; Tawaf, merupakan rukun haji yang ketiga yang harus dilakukan oleh jamaah haji agar ibadah hajinya sah. Secara harfiah tawaf berarti berkeliling. Menurut istilah dalam ilmu fikih, tawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran dengan tata cara yang diatur dalam ilmu fikih.

Tawaf yang dilakukan seorang pelajar di Azhar adalah mengeliling mejlis-majlis ilmu yang ada di lingkugan Al-Azhar. Dari masjid ke masjid, dari masjid ke madhiyafah (Pengajian), dari sebuah madhiyafah ke madhiyafah yang lain.


Keempat; Sa’i, secara harfiah berarti bekerja, berusaha, berjalan, berlari. Sedangkan menurut istilah dalam ilmu fikih, sa’i bermakna berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Dimulai dari bukit shafa dan berakhir di bukit marwah. Tidaklah sah ibadah haji seseorang apabila tidak melakukan sa’i ini.

“Sa’i” yang dilakukan seorang pelajar Al-Azhar adalah berjalan dari Jâmi’ ke Jâmi’ah. Bukan hanya tujuh kali melainkan berkali-kali.

Syeikh Usamah Sayyid Al-Azhari, penasihat Presiden Republik Arab Mesir pernah berkata dalam salah satu majelisnya, bahwa “Al-Azhar itu  Jâmi’ (masjid) dan Jâmi’atan (universitas)”. Seseorang tidak dapat dikatakan Azhari jika hanya menyibukan diri di Jâmi’ah, tapi seseorang dapat dikatatakan Azhari jika menyibukan diri di Jâmi’. Mengapa demikian? Karena sistem pengajaran keduanya berbeda, di Jâmi’ dengan system talaqqi sedangkan di Jâmi’ah dengan system perkuliahan di kelas. adapun memadukan keduanya merupakan hal yang paling baik dan utama.


Kelima; Tahallul, yang berarti penghalalan. Kaitannya dengan ibadah haji, tahallul merupakan ritual yang dilakukan untuk melepaskan seorang yang sedang haji dari larangan atau pantangan ihram dengan cara bercukur dan menggunting rambut. Prosesi rukun haji ini dilakukan setelah pelaksanaan sa’i.

“Tahallul” seorang pelajar Al-Azhar ialah dibolehkannya berdakwah secara resmi setelah melakukan “sa’i” dengan  baik - yakni telah menyelesaikan pembelajaran dengan baik baik di Jâmi’ maupun di Jâmi’ah. Symbol seseorang telah melaksanakan tahallul adalah dengan mencukur rambut, sedangkan symbol seorang pelajar Al-Azhar yang telah menyelesaikan pendidikannya adalah dengan adanya ijazah dari Jâmi’ah dan sanad dari Jâmi.

Akhirnya jika seorang yang berhaji telah melakukan prosedur dengan baik, maka akan tersemat pada dirinya titel ‘Haji’ di depan namanya. Begitu juga seorang Thalib ilmu di Al-Azhar, jika telah melakukan prosedur dengan baik maka akan tersemat didalam dirinya seorang AZHARI.

Setiap seseorang yang telah menyelesaikan ibadah haji mereka berharap ibadahnya hajinya mabrur, begitupun seorang Thalib ilmu ketika telah menyelasaiknan pendidikan mereka berharap ilmunya bermanfaat.

--------------------------------

Alhamdulillah pada tahun 2016, 15 Anggota IKPMA-Mesir yang telah menyelesaikan “ibadah haji”nya. Mereka menyelesaikan “ibadah haji” dengan baik. Marilah bersama-sama kita mendoakan mereka semoga ilmu yang telah di dapat bermafaat baik untuk pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama. Dan  kita yang masih balajar semoga Allah Swt. mudahkan proses belajar kita serta bisa lulus tepat pada waktunya.

jadilah air yang keberadaannya sangat dibutuhkan penduduk bumi

bukan hanya bisa menyuburkan tanah - memuaskan dahaga - lebih dari itu ia bisa memadamkan api.




IKPMA-MESIR
Jaridah KREASI

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -