Archive for June 2017

Seikat Tali Persaudaraan


    
  "Namaku Manila, panggil saja dengan nila, itu nama kecilku", katanya ketika kami berkenalan pada suatu hari dalam bis angkot yang membawa kami bersama ke satu tujuan, yaitu jln Semangka I, tempat di mana aku tinggal sekarang. “Hmm...nama yang unik, mengingatkanku pada sebuah ibu kota, tepatnya ibu kota Thailand. Nama yang sangat mudah diingat”, pikirku.  Setelah perkenalan itu, baru aku tahu kalau mbak Nila ini adalah keponakan om dan tante Budi, tetangga sebelahku. Rupanya ia baru datang dari Yogya seminggu yang lalu.

       "Om dan tante menginginkanku tinggal bersama mereka untuk sementara waktu ini. Yah..sekedar untuk mengusir rasa sepi dalam kehidupan mereka yang sampai sekarang ini belum dikaruniai seorang anak pun. Semoga dengan kehadiranku dapat menghibur hati mereka, sungguh kasihan mereka... " Itu jawabnya ketika kutanyakan apa tujuannya datang ke kotaku ini.

        Om dan tante Budi  memang belum mempunyai anak sampai usia pernikahan mereka yang ke lima belas ini. Sementara untuk mengadopsi mereka masih berkeberatan. Om dan tante Budi juga pernah bercerita kalau mempunyai keponakan perempuan yang juga anak tunggal dari kakak perempuannya om Budi yang hampir menyelesaikan kuliahnya di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. "Pasti mbak Nila ini yang dimaksud mereka”, pikirku.

          Setelah hampir satu bulan kami berkenalan, tak terasa kami begitu akrab satu sama lain. Di mana ada mbak Nila aku pun diajak serta, ke pengajian Majlis Ta'lim, ke perpustakaan, sampai untuk mengaji Alquran pun aku sering diajaknya. Semua apa yang ia berikan membuat ada sesuatu yang menyejukkan dalam hati. Alhamdulillah, aku sudah mulai rajin sholat, mengaji, nggak suka jalan-jalan ke mall lagi. Pokoknya aku sekarang sedikit aliman walaupun jilbab belum kukenakan karena aku belum siap untuk memakainya. Begitu juga kalau aku akan pergi, kuingin mbak Nila besertaku selain  menjadi teman jalan, mbak Nila juga dapat memberikan masukan-masukan bila aku ingin membeli sesuatu. "Pikirkan dik, apakah itu benar-benar bermanfaat untuk adik", itu yang selalu ia katakan bila aku meminta pendapatnya. Yah...kami begitu dekat satu sama lain seakan kami adalah saudara kandung, dan kebetulan juga aku anak tunggal. Walaupun mbak Nila jauh lebih tua lima tahun dariku, tapi itu tak menjadi pemisah dalam keakraban kami. Mbak Nila di mataku begitu bersahaja, berwibawa, penyantun, lembut, cantik dan anggun dengan jilbab yang selalu dikenakannya kemana pun ia pergi, kecuali kalau pas di rumah.

                                                      *   *   *    *    *
        Setelah sekian lama aku menjalin persaudaraan dengannya, membuat aku mengikuti jejaknya. Yah... kini aku telah memakai jilbab dan berbusana muslimah. Ketika kukatakan niatku itu padanya, ia merangkulku penuh bahagia dan langsung menghadiahkanku sebuah jilbab putih yang baru dibelinya minggu yang lalu. Aku bahagia sekali.

        Mama dan papa? Alhamdulillah tidak menjadi masalah. Mereka pun mendukung prinsipku. "Anak gadis mama dan papa jadi tambah cantik deh...", puji mereka ketika pertama kali melihat diriku memakai jilbab. Aku hanya tersenyum senang, bahagia.

        Tapi tidak bagi teman-temanku di SMUN 10. Mereka kaget karena si bintang kelas yang selalui menjuarai berbagai perlombaan antar sekolah di berbagai bidang kesenian, olah raga dan pendidikan memakai jilbab. Santi yang dikenal mereka seorang anak yang lincah dan periang juga anak gaul memakai selembar kain yang bagi mereka itu penghalang gerak seorang wanita, pengukung emansipasi. Mereka tidak mau menerima keadaanku, mereka menginginku seperti Santi yang dulu yang bisa diajak kemana aja.

         Santoni, termasuk dari mereka yang yang menentang jalanku ini. Sang Idola cewek-cewek SMUN 10 itu tidak setuju dengan penampilanku sekarang ini. Kuno, terbelakang, tidak modern, katanya ketika melihatku dengan jilbab putihku. Aku terhenyak mendengar makiannya. “Oh....Tuhan, kenapa Santoni beranggapan seperti itu. Seharusnya ia bangga  kalau aku dapat mengamalkan perintah Allah secarah kaffah”.

       "Itulah ujian San. Bersyukurlah Allah berkenan menguji Santi yang ingin istiqomah di jalan-Nya.Ketahuilah bila seseorang hamba diuji Allah berrti Allah menginginkan hamba itu dekat dengan-Nya, karena Allah ingin mengetahui kadar ketaqwaannya...", tutur mbak Nila ketika kuceritakan masalahku. Dengan panjang lebar mbak Nila menjelaskan tentang pergaulan dalam Islam dan ia pun berusaha mengeluarkanku dari masalah yang sedang membelengguku.

       "Istiqomah ya dik, ikuti kegiatan Rohis yang ada di sekolahmu, insya Allah kau akan dapati masih banyak saudara-saudaramu yang mencintai dan menyayangimu karena Allah. Tahan uji adalah salah satu sifat seorang mukmin", kata mbak Nila lagi sambil tersenyum ke arahku, senyuman yang membuat tekad di hatiku untuk menjadi seorang wanita sholehah yang sering di sebut-sebutnya. Tanpa terasa air mataku mengalir terharu dengan penuturannya yang membuat hatiku plong.

                                                       *    *    *    *    *
          Alhamdulillah.....selain mbak Nila, ada Ima, Ina, Ani, Dina, Opi, Yanti dan banyak lagi teman yang memberikan support kepadaku, mereka berusaha menguatkan tekadku. Dari persaudaraan yang mereka ulurkan seakan berkata kalau aku tidak sendirian berjalan di jalan ini, masih banyak saudara-saudaraku yang bisa kuajak kerja sama, saudara-saudaraku yang baru aku ketahui bahwa merekalah saudara-saudaraku yang mencintaiku dan menyayangiku karena Allah.Kini aku tidak sendiri lagi terutama semenjak aku masuk dalam anggota rohis sekolah.
       
                                                       *   *      *    *     *
        "San...malam minggu ini kamu ada di rumah kan!?" Tanya Santoni suatu hari.
        "Duh...gimana ya Ton. Malam minggu ini aku harus menginap ke rumah nenek, habis udah janji sih sama beliau sekalian hari minggu kan hari libur", elakku.

        "Aduh Santi, kok banyak sekali alasanmu bila aku ingin apel malam minggu di rumahmu. Minggu kemaren kamu bilang sibuk mempersiapkan ujian Kimia, minggu kemarennya lagi kamu bilang mau nemani mama dan papamu memenuhi undangan makan malam relasi kerja papamu, dan minggu kemarennya lagi.......aduh, aku nggak ingat lagi alasan-alasanmu. Santi.., sejujurnya apakah kau tidak ingin bersamaku lagi merajut hari-hari kita dengan cinta?".

        "Maaf Ton, aku tetap tidak bisa. Selamat tinggal, aku masih punya banyak kerjaan", jawabku tegas. Tak kuhiraukan lagi panggilan Santoni, aku bergegas pergi. Ah...ada yang mengiris dalam hatiku, cinta sang coverboy yang telah berhasil kuraih harus terpaksa aku lepaskan demi meraih cinta yang sebenarnya, cinta hakiki. “Maafkan aku Ton”...bisikku.

                                                      *     *     *     *      *
         "San, ayo naik...!" Pinta Santoni kepadaku untuk naik di motornya setelah kami pulang dari sekolah.

         "Mmmakasih...Ton, aku naik bus aja bareng sama teman-teman", tolakku. "Teima kasih atas ajakanmu".

         Kutangkap tatapan tajam dari mata kelamnya, aku tak tahu apa itu, marahkah ia, kesalkah karena nggak pernah-pernah aku menolak  permintaannya. Tanpa berkata lagi, Toni langsung tancap gas. Tanpa kusadari banyak teman-teman yang menyaksikan adegan drama ini.

        "Tumben San, nggak mau di bonceng. Coba kalau Santoni tadi nyuruh aku yang duduk di belakangnya, wah...takkan bakal kutolak", celoteh  Rina yang langsung disambut riuh oleh teman-teman.

         "Eh San.., hati-hati lho kalau kamu nggak mau lagi sama si ganteng. Masih banyak yang menginginkan cintanya..." ujar Sari mewanti-wanti diriku.

                                                       *     *     *     *     *                      
         Kini siswa-siswi SMUN 10 geger, pasalnya aku putus resmi sama Santoni. Aku merasa lega sekali ketika kuucapkan kata "putus" itu. Kedudukanku sekarang bagaikan seorang selebritis yang jadi bahan gunjingannya para pers, di mana-mana orang orang membicarakan tentang putusnya hubungan kami.

         "Wah...bakal ada kesempatan nih merebut cinta sang Arjuna". Itu kata mereka. “Yah..terserah apa kata kalian, tapi aku mengetahui apa yang terbaik untukku”, bisikku.

                                                        *     *      *       *       *
          Sekarang hari-hariku kulalui dengan penuhnya kegiatan di rohis. Tapi tidak dengan Santoni, kelihatannya ia tidak seperti hari-hari sebelumnya. Kata teman-temannya Santoni sering bolos dari sekolah. Mendengar kabar itu aku jadi sedih, akukah penyebabnya? Kukuatkan hatiku, “berilah hidayah-Mu kepadanya sebagaimana Engkau memberikan hidayah-Mu kepadaku”, doaku dalam hati.
          "San, itu ditunggu si Ina, jadi rapat nggak?" tanya Atika.

          "Oh ya..", tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku, astaghfirullah....

                                                         *      *    *       *        *
          Tahun berganti tahun. Kini aku telah menamatkan sekolahku di SMUN 10 dengan menggandeng Nem tertinggi di sekolahku. Alhamdulillah....syukurku. Tak lupa kutunjukkan keberhasilan itu pada mama, papa dan juga mbak Nila. Semuanya merasa senang dan gembira dengan prestasiku. Mama dan papa berniat mengajakku berlibur ke Amsterdam. Mbak Nila juga tidak ketinggalan ikut menghadiahkan sebuah Alquran kecil padaku.

          "Semoga tiap kali membaca Alquran  ini, dik Santi dapat teringat dengan mbak Nila", ucapnya. “Ah...mbak Nila, tanpa hadiah pun aku akan tetap mengingat persaudaraan kita ini. Kaulah yang mengajakku untuk mencapai hidayah-Nya”. Kupeluk tubuhnya, aku terharu dengan segala perhatiannya selama ini.

           "Dik Santi, percayakah dik Santi, kalau ada pertemuan pasti ada perpisahan?" tanya mbak Nila.

            "Ya.. percaya", jawabku.

            Mbak Nila tersenyum.,"begitu juga dengan kita". Perkataannya ini membuat aku langsung berpaling kearahnya.

            "Maksud mbak?" tanyaku.

            "Dik Santi jangan bersedih ya..., sepertinya kita akan sementara berpisah.  Mbak akan pulang ke Yogya, ada telegram dari ayah dan ibu yang menyuruh mbak harus cepat pulang".

            "Jadi mbak akan pergi meninggalkanku?".

            "Yah begitulah dik..., mbak akan menikah".

            "Apa mbak?, mbak akan menikah?". Mbak Nila mengangguk.

Entah perasaan apa yang sekarang ada dalam hatiku, bahagia atau sedih. Bahagia.., wajar karena kebahagiaannya kebahagiaanku juga. Mbak Nila bahagia karena akan menggenapkan dinnya yang separuh. Sedih..., itu pun ada karena kami akan berpisah, entah itu buat sementara atau selamanya.

             "Mbak, sebenarnya aku ingin kita selalu dapat bersama".

             "Yah..itu rencana manusia, tapi bila Allah menghendaki lain, kita tidak bisa mengelak dari kehendak-Nya. Dik San ti jangan bersedih ya, insya Allah...Allah akan mengganti yang lebih baik dari mbak. Yang penting selalulah istiqomah di jalan-Nya. Kuatkan hatimu dalam menggarungi ujian yang menghampiri, selalu bersabar. Dengan begitu engkau akan merasa Allah dekat denganmu. Dan terakhir, sering-sering ya kirim surat ke mbak, insya Allah mbak akan balas. San.., mbak tidak ingin mendengar setelah mbak pergi  kalau Santi nggak semangat lagi dalam hari-harinya".

           "Terima kasih mbak. Semoga mbak tidak melupakanku. Dan aku akan selalu mengingat mbak sampai kapan pun, karena mbak sudah seperti saudara kandungku sendiri, dan melalui mbak juga aku menemukan cinta sejati dan persaudaraan karena Allah. Doakan aku ya mbak semoga aku tetap istiqomah, begitu juga dengan mbak, semoga selalu istiqomah bersama dengan suami mbak Nila". Tak terasa mataku basah..., aku menangis, mbak Nila juga.  Kami saling berpelukan seakan kami tidak ingin kehilangan satu sama lain. 

                                                         *     *     *      *     *
            Mbak Nila telah pergi  tapi seakan ia tidak pernah pergi  dari hatiku. Ia selalu berada dalam hari-hariku. Kupandangi potonya yang tersenyum manis. Tak terasa gumpalan-gumpalan bening kembali menggenangi bola mataku. Bila teringat hari-hari yang kami lalui dengan keceriahan dan cengrama, aku akan selalu menangis. Tapi aku akan selalu berdoa semoga suatu saat kita kan dapat bertemu kembali.


                                                         *     *      *     *      *

Kreasi edisi 19
Thursday, 15 June 2017
Tag :

Cinta Dunia dan Faktor Kemunduran Umat

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Lalu seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?”Rasul menjawab ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Secara garis besar. ada dua hal yang dapat kita petik dari hadis di atas yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban ra., yaitu faktor kemunduran dan kemajuan Umat. Berikut faktor-faktornya;

Faktor-faktor kemunduran Umat:

1.       Jauhnya keluarga muslim dari sosialisasi keluarga dengan karakter keislaman.
2.       Adanya contoh dan peranan yang tidak baik dari generasi terdahulu kepada generasi penerus. Lingkungan terkecilnya adalah keluarga. Dimana orangtua jauh dari peran dan percontohan yang layak kepada anak-anaknya.
3.       Berkurangnya dakwah sosial di tengah masyarakat seperti perhatian kepada dhuafa, orang-orang miskin, anak-anak putus sekolah dan lainnya.
4.       Perang pemikiran dan candu berupa konten-konten pronografi dan pengedaran narkoba yang dapat melemahkan generasi muda muslim dan bangsa.
5.       Perang media berupa penyebaran dan penggiringan opini public yang bersifat menyerang umat Islam.
6.       Ketidak tahuan dan menjamurnya aliran sesat dalam beragama.
7.       Lemahnya penegakkan hukum dan nilai-nilai luhur keislaman.


Faktor-faktor Kemajuan Umat:

1.       Aqidah : keimanan adalah factor utama kekuatan umat ini. Iman yang kuat akan membawa umat pada persatuan dan memperkuat tali-tali agama Allah, sehingga umat tak mudah goyah dan lekang oleh godaan sesaat.

2.       Keasadarn nurani dan tanggung jawab di hadapan Allah: sebagai muslim dan beriman kepada Allah, kita menyadari benar bahwa setiap tindak-tanduk langkah hidup kita di tiap detik yang berlalu akan dipertanggung jawabkan di hadapannya. Karenanya, kesadaran itu akan menjaga kita dari setiap perbuatan yang tiada manfaat, dan terus memotivasi kita untuk berbuat ibadah. Baik itu ibadah ritual, maupun sosial.

3.       Selalu mengedepankan risalah Islam: apa pun yang akan dilakukan seorang muslim, pandangannya jauh tertuju pada pesan dan nilai-nilai yang di bawa oleh agama Islam. Karena sejatinya, nilai luhur yang ada pada agama Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dan Islam selalu relevan menjadi rujukan setiap orang di setiap tempat dan de setiap waktu.

4.       Ilmu Pengetahuan: sebagai mana dikatakan dalam sebuah riwayat, siapa yang ingin mendapatkan dunia maka harus berilmu. Siapa yang ingin akhirat maka harus berilmu. Ilmu pengetahuan adalah lambing kemajuan suatu bangsa. Siapa yang dapat menguasainya, maka jayalah bangsa tersebut. Tiada yang bertentangan antara ilmu yang terlihat duniawi dengan ilmu yang terlihat ukhrawi. Karena sejatinya ilmu itu akan mengantarkan seseorang pada iman dan tauhid, serta kayakinan bahwa Allah adalah pemilik segalanya.

5.       Mendasari ilmu pengetahuan pada iman dan takwa. Sehingga semakin berkembang dan majunya ilmu, maka semakin meningkatnya iman dan ketakwaan umat.

6.       Berlaku adil: adil adalah lambang kebijaksanaan seseorang. Adil juga merupakan tujuan dari maqashid syariah islamiyah. Itu sebabnya, Allah menyanjung orang-orang yang berlaku adil dengan mendekati pada ketakwaan.

7.       Tidak memonopoli ilmu dan terbatas pada lapisan masyarakat tertentu.

8.       Menghormati para ulama sebagaimana seharusnya.

9.       Kesadaran umat terhadap pesan dan risalah luhur yang di bawa oleh al-Quran dan al-Hadits.

10.   Menolong orang-orang yang lemah dan tertindas serta membantu mereka berhijrah baik dari “negeri kafir” maupun berhijrah dari kondisi hidup yang jauh dari nilai-nilai keislaman.


11.   Berdakwah di jalan Allah tanpa mengharapkan imbalan dan tujuan duniawi lainnya.


Editor: Rizky Ahmad
Tuesday, 13 June 2017

Pendidikan Tanpa Negara: Beberapa Catatan Tentang KH Noer Alie

PENDIDIKAN TANPA NEGARA:
BEBERAPA CATATAN TENTANG KH NOER ALIE*

Luthfi Assyaukanie MA**


Salah satu kesulitan yang dihadapi setiap penulis atau peneliti yang ingin mendiskusikan gagasan pemikiran seorang tokoh besar adalah sumber-sumber yang menjadi rujukan penelitian tersebut. Kesulitan itu akan berlipat ganda jika sang tokoh yang diteliti tidak meninggalkan karya tulis, apalagi yang mau diteliti adalah sebuah gagasan pemikiran. Karena mustahil rasanya berbicara tentang sebuah gagasan pemikiran tanpa melibatkan teks.

Sumber-sumber tentang KH Noer Ali yang ada selama ini adalah buku-buku sekunder yang ditulis oleh sebagian peneliti atau mahasiswa dalam skripsi mereka. Itupun lebih banyak menekankan kepada sosok kepahlawanan KH Noer Alie dengan bumbu-bumbu cerita yang --sangat disayangkan-- lebih berbau mitos ketimbang fakta sejarah.

KH  Noer Alie sendiri, sejauh yang saya ketahui, tak meninggalkan karya tulis yang bisa menjelaskan kepada kita tentang gagasan dan pandangannya, baik tentang pendidikan maupun pemikiran lainnya. Peninggalan satu-satunya yang berkaitan dengan “gagasan pendidikan” adalah warisan fisik pondok pesantren Attaqwa yang hingga hari ini masih tegak berdiri. Tentu saja, kita tak bisa berharap banyak –atau juga tidak fair—menggali pemikiran-pemikiran KH Noer Alie semata-mata dari bangunan fisik tersebut.

Pengakuan orang banyak adalah rujukan paling sering yang diberikan seseorang jika ia ingin berbicara tentang kiprah dan gagasan pendidikan KH Noer Alie. Dalam komunitas verbal, argumentum ad populum semacam ini adalah suatu hal yang lumrah. Tapi, ketika kita ingin mendiskusikannya dalam tradisi literal, pengakuan-pengakuan itu harus diterjemahkan ke dalam logika ilmiah yang jernih dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan bermodalkan pengalaman belajar langsung dari KH Noer Alie dan bergaul dengan teman-teman dan senior-senior selama di pesantren Attaqwa, saya memberanikan diri mendiskusikan gagasan pemikiran KH Noer Alie, khususnya yang menyangkut pendidikan. Saya tak ingin berpretensi bahwa saya mengetahui banyak hal tentang pemikiran beliau. Tapi, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar seputar persoalan ini, saya berharap dapat menjawab keingintahuan kita semua tentang gagasan pendidikan KH Noer Alie.

Pemikiran Liberal. Sebagaimana ulama dan tokoh agama sejamannya, KH Noer Alie merealisasikan gagasan pendidikannya dalam bentuk pondok pesantren. Tentu saja, pondok pesantren merupakan pilihan yang paling ideal pada saat itu untuk memberdayakan intelektualitas masyarakat. Karena, selain lebih bisa diterima masyarakat --karena sifatnya yang informal dan merakyat—pondok pesantren juga memiliki fungsi ganda (double function). Yakni bukan hanya sebagai tempat pengajaran, tapi juga sebagai tempat berlatih dan mempraktekkan ilmu yang didapat. Dalam bentuknya yang ekstrim, pondok pesantren bahkan dapat dijadikan markas perjuangan fisik melawan penjajah.

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, pilihan mendirikan pesantren, pada batas tertentu, bukan hanya pilihan edukasional, tapi juga pilihan perjuangan melawan kolonialisme. Sebagai tokoh pejuang, KH Noer Alie tentu menyadari betul apa fungsi pesantren bagi sebuah cita-cita kemerdekaan. Dengan sifatnya yang multifungsi itu, bagi KH Noer Alie, potensi pondok pesantren bisa diberdayakan untuk memenuhi tujuan teoritis (pendidikan) dan praktis (perjuangan fisik) sekaligus.

Ketika Indonesia telah mendapatkan kemerdekaannya dan perjuangan fisik tak lagi dibutuhkan, peran pondok pesantren pun memiliki porsi yang lebih besar bagi pemberdayaan intelektual. Dalam kondisi seperti ini, konsentrasi terhadap perbaikan sistem pembelajaran adalah sesuatu yang tak dapat dikesampingkan. Energi yang semula dihabiskan untuk meraih kemerdekaan harus dialokasikan untuk peningkatan mutu pendidikan. Di sinilah peran KH Noer Alie sebagai pendidik yang sesungguhnya dimulai.

Gagasan utama yang berkaitan dengan pemikiran pendidikan KH Noer Alie yang paling bisa dirasakan adalah bagaimana dia menyulap sebuah perkampungan agrikultural menjadi sebuah kawasan kultural di mana pondok pesantren --dan bukan lumbung-lumbung padi-- menjadi monumennya. Ujungmalang yang pernah dianggap sebagai perkampungan “antah-berantah” tiba-tiba menjadi sebuah “kota” dengan nuansa pendidikan yang kental. Semua itu, tak lain berkat hadirnya Attaqwa.
Berbicara tentang Attaqwa, kita tak bisa lepas dari sistem pendidikan di dalamnya. Sebagaimana pondok-pondok pesantren modern pada umumnya, Attaqwa berusaha menerapkan kurikulum pendidikan yang bukan hanya dapat menelurkan manusia-manusia yang pandai dalam bidang keagamaan, tapi juga pintar dalam bidang keilmuaan. Untuk itu, lembaga pendidikan ini berusaha menjalankan kurikulum “dunia-akhirat” secara ketat. Para siswa diajarkan ilmu-ilmu umum sama baiknya dengan ilmu-ilmu agama.

Sebagai pesantren modern, Attaqwa bukan hanya menggabungkan ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum secara hitam-putih. Dalam bidang keagamaan misalnya, lembaga pendidikan ini tak hanya menggunakan buku-buku klasik (kitab kuning) sebagai kajian utamanya, tapi buku-buku modern yang ditulis dalam bahasa Arab juga dijadikan rujukan utama. Saya masih ingat bagaimana lembaga itu mengajarkan al-Husun al-Hamidiyyah, sebuah kitab teologi yang dikarang oleh seorang tokoh modernis asal Lebanon, Husein al-Jisr (1845-1909). Alih-alih mengajarkan kitab klasik semacam al-Ibanah (al-Asy’ari), al-Irsyad (al-Juwayni), atau al-Aqaid (al-Nasafi), Attaqwa memilih kitab teologi modern yang ditulis oleh seorang tokoh yang didunia Arab cukup kontroversial karena gagasan-gagasan modernisnya.

Saya kira, KH Noer Alie secara khusus atau Attaqwa secara umum bukan tanpa alasan memilih jenis buku-buku semacam itu. Selain karena alasan metodologis, buku-buku teologis yang ditulis oleh orang modern tentu lebih cocok dan mengena dengan konteks kehidupan berteologi kaum muslim sekarang. Buat apa mempelajari doktrin-doktrin Islam 12 abad silam kalau tak mempunyai konteks teologisnya dengan apa yang dihadapi oleh kaum muslim modern?

Sebagai seorang alim yang pernah merasakan pendidikan di Timur Tengah yang cukup lama, bukan mustahil KH Noer Alie pernah merasakan aura pemikiran Islam yang sangat progresif dan dinamis ketika masih belajar di sana. Masa-masa awal abad ke-20 di kawasan Timur Tengah adalah periode yang disebut oleh Albert Hourani sebagai era liberal (liberal age) bagi pemikiran Islam. Pada saat inilah perdebatan seputar modernisme, sekularisme, otoritarianisme, dan tema-tema pemikiran lainnya secara luas dibicarakan.

Dengan memilih buku-buku yang “progresif” semacam itu, saya kira, KH Noer Alie memang secara sadar menginginkan para anak didiknya menjadi manusia yang liberal, progresif, dan dinamis. Sebagai orang yang pernah merasakan atmosfer “liberalisme Timur Tengah” KH Noer Alie berusaha menjadikan Attaqwa sebagai proyek intelektual yang dapat menelurkan manusia-manusia yang arif, bijak, dan mengerti persoalan yang dihadapinya.

Pendidikan Islam. Pengalaman Timur Tengah yang sangat membekas dalam diri KH Noer Alie dicoba terapkan dalam Attaqwa, lembaga pendidikan yang didirikannya. Secara formal, Attaqwa adalah lembaga pendidikan Islam yang berusaha menjalankan nilai-nilai keislaman dalam bidang pendidikan. Sejauh pengetahuan saya, KH Noer Alie sendiri tak pernah menjelaskan konsepnya tentang pendidikan Islam. Tapi kita bisa melihat pandangannya tentang persoalan ini dari bagaimana ia mendirikan, mengelola, dan mengembangkan Attaqwa.

Sebagaimana para pendidik muslim lainnya, KH Noer Alie meyakini bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia paripurna (insan kamil) yang dapat berguna bukan hanya bagi agama dan masyarakatnya, tapi juga mampu berkiprah bagi bangsa dan negaranya. Sebagai seorang pejuang, KH Noer Alie tentu mengerti betul apa makna dan peran seorang warga negara bagi bangsanya.

Jika kita berbicara tentang sistem pendidikan Islam sebagai sebuah konsep, maka kita tak lepas dari pembicaraan mengenai orientasi pendidikan secara umum. Paling tidak, ada dua orientasi pendidikan yang berjalan selama ini. Pertama, orientasi kepada negara (state-centered orientation). Dalam orientasi ini, pendidikan diposisikan sebagai sebuah alat untuk memproduksi warga negara yang baik (good citizen). Sebagai wadah yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan kenyaman semua warga, negara merasa perlu mengorientasikan pendidikan yang diselenggarakannya untuk mencetak manusia-manusia yang taat hukum. Pendidikan dalam konteks ini bersifat tunduk kepada kepentingan negara, dan bukan pada kepentingan lainnya.

Para pendidik yang berorientasi kepada negara menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, sedangkan ilmu pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial. Karena itu, pendidikan harus diorientasikan kepada kebutuhan-kebutuhan sosial yang bersifat fungsional. Dalam bentuk kecil, “sosial” adalah masyarakat pedesaan atau perkotaan. Tapi dalam bentuk besarnya, masyarakat adalah negara.

Kedua, orientasi kepada individu (person-centered orientation). Dalam orientasi ini, pendidikan ditekankan kepada penggalian dan pemberdayaan potensi individual setiap orang. Tujuan akhir dari orientasi ini adalah memproduksi manusia yang baik (good man) dan bukan hanya warga yang baik (good citizen).

Sebagian besar sistem pendidikan modern di Indonesia berorientasi kepada negara. Sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi negeri, bisa dipastikan, adalah lembaga-lembaga pendidikan yang mengorientasikan dirinya kepada negara. Sebagian lembaga pendidikan swasta, berupaya mengurangi dominasi dan kontrol negara. Sedangkan sebagian lainnya berusaha menjadi otonom dan independen dari pengaruh negara.

Pondok pesantren pada umumnya adalah lembaga pendidikan yang berorientasi kepada perbaikan individu sebagai individu (al-insan ka ma huwa). Sebagai institusi yang tidak didanai dan dikontrol oleh negara, pondok pesantren sangat peduli dengan konsep pengembangan diri (personal development) sebagai landasan kemajuan, baik bagi setiap individu, masyarakat, maupun negara.

Beberapa ahli dan pakar pendidikan di Barat, seperti Abraham Maslow, A.S Neill, dan Jean Paul Sartre meyakini bahwa orientasi kepada individu dalam bidang pendidikan jauh lebih baik daripada orientasi kepada negara.

Implikasi dari penerapan dua sistem yang berbeda itu tentu saja tidak sama. Pada sistem yang berorientasi kepada negara, pendidikan diarahkan sebagai alat untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan kebijakan-kebijakan negara. Para siswa adalah warganegara yang harus tunduk kepada sistem dan aturan yang dibuat oleh negara. Mereka dilatih bagaimana menjadi warganegara yang baik, warga yang taat hukum, aturan, dan perundang-undangan yang dibuat oleh negara.

Sementara itu, pada sistem yang berorientasi kepada individu, pendidikan diarahkan menjadi pusat pemberdayaan manusia sebagai individu yang baik (good man) pada satu sisi, dan sebagai warga negara yang baik (good citizen) pada sisi lain. Penekanan pada “good man” dan bukan pada “good citizen” karena istilah yang pertama sudah mengimplikasikan istilah yang kedua, dan tidak sebaliknya.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan yang otonom dan tidak mengikuti kurikulum pemerintah, Attaqwa sejak didirikan oleh KH Noer Alie adalah sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi kepada individu. Secara sadar, KH Noer Alie memilih untuk membuat kurikulum sendiri, karena kurikulum yang dibuat pemerintah –paling tidak hingga ketika beliau masih hidup—dinilai tidak memadai. Meskipun bayaran untuk sikap semacam ini sangat besar. Para siswa tidak memiliki ijazah formal dan terancam tak bisa melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, akibat tak memiliki ijazah negeri yang diakui negara.

Penolakan KH Noer Alie terhadap kurikulum nasional, seharusnya tidak dilihat secara hitam-putih. Pilihan-pilihan terhadap hal itu, saya kira, sangat dipengaruhi oleh zaman di mana ia hidup. Di tengah hegemoni negara yang represif dan cenderung mempersempit ruang gerak setiap kreatifitas individu, “pemberontakan” adalah pilihan yang sangat menggoda. Dan KH Noer Alie tidaklah sendirian. Sebagaimana kita lihat, hampir semua pondok pesantren atau lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki “persoalan sejarah” dengan kekuasaan (akibat warisan kolonialisme), menolak kurikulum nasional.

Dengan kata lain, pilihan KH Noer Alie itu bersifat kontekstual sesuai dengan tuntutan zamannya. Adalah sebuah kemunduran, saya kira, jika para penerusnya sekarang tetap mempertahankan ijtihad-ijtihad pendidikan beliau. Alasannya sederhana, zaman telah berubah, kondisi telah berbeda, dan tuntutan tidak sama lagi seperti dulu.





* Disampaikan dalam seminar sehari Refleksi Pemikiran dan Tindakan KH. Noer Alie. Islamic Centre Bekasi, 30 September 2001.
** Staf pengajar di Fakultas Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina, Jakarta, dan pengelola Jaringan Islam Liberal (http://www.islamlib.com).
Monday, 12 June 2017

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -