Monday, 12 June 2017

PENDIDIKAN TANPA NEGARA:
BEBERAPA CATATAN TENTANG KH NOER ALIE*

Luthfi Assyaukanie MA**


Salah satu kesulitan yang dihadapi setiap penulis atau peneliti yang ingin mendiskusikan gagasan pemikiran seorang tokoh besar adalah sumber-sumber yang menjadi rujukan penelitian tersebut. Kesulitan itu akan berlipat ganda jika sang tokoh yang diteliti tidak meninggalkan karya tulis, apalagi yang mau diteliti adalah sebuah gagasan pemikiran. Karena mustahil rasanya berbicara tentang sebuah gagasan pemikiran tanpa melibatkan teks.

Sumber-sumber tentang KH Noer Ali yang ada selama ini adalah buku-buku sekunder yang ditulis oleh sebagian peneliti atau mahasiswa dalam skripsi mereka. Itupun lebih banyak menekankan kepada sosok kepahlawanan KH Noer Alie dengan bumbu-bumbu cerita yang --sangat disayangkan-- lebih berbau mitos ketimbang fakta sejarah.

KH  Noer Alie sendiri, sejauh yang saya ketahui, tak meninggalkan karya tulis yang bisa menjelaskan kepada kita tentang gagasan dan pandangannya, baik tentang pendidikan maupun pemikiran lainnya. Peninggalan satu-satunya yang berkaitan dengan “gagasan pendidikan” adalah warisan fisik pondok pesantren Attaqwa yang hingga hari ini masih tegak berdiri. Tentu saja, kita tak bisa berharap banyak –atau juga tidak fair—menggali pemikiran-pemikiran KH Noer Alie semata-mata dari bangunan fisik tersebut.

Pengakuan orang banyak adalah rujukan paling sering yang diberikan seseorang jika ia ingin berbicara tentang kiprah dan gagasan pendidikan KH Noer Alie. Dalam komunitas verbal, argumentum ad populum semacam ini adalah suatu hal yang lumrah. Tapi, ketika kita ingin mendiskusikannya dalam tradisi literal, pengakuan-pengakuan itu harus diterjemahkan ke dalam logika ilmiah yang jernih dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan bermodalkan pengalaman belajar langsung dari KH Noer Alie dan bergaul dengan teman-teman dan senior-senior selama di pesantren Attaqwa, saya memberanikan diri mendiskusikan gagasan pemikiran KH Noer Alie, khususnya yang menyangkut pendidikan. Saya tak ingin berpretensi bahwa saya mengetahui banyak hal tentang pemikiran beliau. Tapi, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar seputar persoalan ini, saya berharap dapat menjawab keingintahuan kita semua tentang gagasan pendidikan KH Noer Alie.

Pemikiran Liberal. Sebagaimana ulama dan tokoh agama sejamannya, KH Noer Alie merealisasikan gagasan pendidikannya dalam bentuk pondok pesantren. Tentu saja, pondok pesantren merupakan pilihan yang paling ideal pada saat itu untuk memberdayakan intelektualitas masyarakat. Karena, selain lebih bisa diterima masyarakat --karena sifatnya yang informal dan merakyat—pondok pesantren juga memiliki fungsi ganda (double function). Yakni bukan hanya sebagai tempat pengajaran, tapi juga sebagai tempat berlatih dan mempraktekkan ilmu yang didapat. Dalam bentuknya yang ekstrim, pondok pesantren bahkan dapat dijadikan markas perjuangan fisik melawan penjajah.

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, pilihan mendirikan pesantren, pada batas tertentu, bukan hanya pilihan edukasional, tapi juga pilihan perjuangan melawan kolonialisme. Sebagai tokoh pejuang, KH Noer Alie tentu menyadari betul apa fungsi pesantren bagi sebuah cita-cita kemerdekaan. Dengan sifatnya yang multifungsi itu, bagi KH Noer Alie, potensi pondok pesantren bisa diberdayakan untuk memenuhi tujuan teoritis (pendidikan) dan praktis (perjuangan fisik) sekaligus.

Ketika Indonesia telah mendapatkan kemerdekaannya dan perjuangan fisik tak lagi dibutuhkan, peran pondok pesantren pun memiliki porsi yang lebih besar bagi pemberdayaan intelektual. Dalam kondisi seperti ini, konsentrasi terhadap perbaikan sistem pembelajaran adalah sesuatu yang tak dapat dikesampingkan. Energi yang semula dihabiskan untuk meraih kemerdekaan harus dialokasikan untuk peningkatan mutu pendidikan. Di sinilah peran KH Noer Alie sebagai pendidik yang sesungguhnya dimulai.

Gagasan utama yang berkaitan dengan pemikiran pendidikan KH Noer Alie yang paling bisa dirasakan adalah bagaimana dia menyulap sebuah perkampungan agrikultural menjadi sebuah kawasan kultural di mana pondok pesantren --dan bukan lumbung-lumbung padi-- menjadi monumennya. Ujungmalang yang pernah dianggap sebagai perkampungan “antah-berantah” tiba-tiba menjadi sebuah “kota” dengan nuansa pendidikan yang kental. Semua itu, tak lain berkat hadirnya Attaqwa.
Berbicara tentang Attaqwa, kita tak bisa lepas dari sistem pendidikan di dalamnya. Sebagaimana pondok-pondok pesantren modern pada umumnya, Attaqwa berusaha menerapkan kurikulum pendidikan yang bukan hanya dapat menelurkan manusia-manusia yang pandai dalam bidang keagamaan, tapi juga pintar dalam bidang keilmuaan. Untuk itu, lembaga pendidikan ini berusaha menjalankan kurikulum “dunia-akhirat” secara ketat. Para siswa diajarkan ilmu-ilmu umum sama baiknya dengan ilmu-ilmu agama.

Sebagai pesantren modern, Attaqwa bukan hanya menggabungkan ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum secara hitam-putih. Dalam bidang keagamaan misalnya, lembaga pendidikan ini tak hanya menggunakan buku-buku klasik (kitab kuning) sebagai kajian utamanya, tapi buku-buku modern yang ditulis dalam bahasa Arab juga dijadikan rujukan utama. Saya masih ingat bagaimana lembaga itu mengajarkan al-Husun al-Hamidiyyah, sebuah kitab teologi yang dikarang oleh seorang tokoh modernis asal Lebanon, Husein al-Jisr (1845-1909). Alih-alih mengajarkan kitab klasik semacam al-Ibanah (al-Asy’ari), al-Irsyad (al-Juwayni), atau al-Aqaid (al-Nasafi), Attaqwa memilih kitab teologi modern yang ditulis oleh seorang tokoh yang didunia Arab cukup kontroversial karena gagasan-gagasan modernisnya.

Saya kira, KH Noer Alie secara khusus atau Attaqwa secara umum bukan tanpa alasan memilih jenis buku-buku semacam itu. Selain karena alasan metodologis, buku-buku teologis yang ditulis oleh orang modern tentu lebih cocok dan mengena dengan konteks kehidupan berteologi kaum muslim sekarang. Buat apa mempelajari doktrin-doktrin Islam 12 abad silam kalau tak mempunyai konteks teologisnya dengan apa yang dihadapi oleh kaum muslim modern?

Sebagai seorang alim yang pernah merasakan pendidikan di Timur Tengah yang cukup lama, bukan mustahil KH Noer Alie pernah merasakan aura pemikiran Islam yang sangat progresif dan dinamis ketika masih belajar di sana. Masa-masa awal abad ke-20 di kawasan Timur Tengah adalah periode yang disebut oleh Albert Hourani sebagai era liberal (liberal age) bagi pemikiran Islam. Pada saat inilah perdebatan seputar modernisme, sekularisme, otoritarianisme, dan tema-tema pemikiran lainnya secara luas dibicarakan.

Dengan memilih buku-buku yang “progresif” semacam itu, saya kira, KH Noer Alie memang secara sadar menginginkan para anak didiknya menjadi manusia yang liberal, progresif, dan dinamis. Sebagai orang yang pernah merasakan atmosfer “liberalisme Timur Tengah” KH Noer Alie berusaha menjadikan Attaqwa sebagai proyek intelektual yang dapat menelurkan manusia-manusia yang arif, bijak, dan mengerti persoalan yang dihadapinya.

Pendidikan Islam. Pengalaman Timur Tengah yang sangat membekas dalam diri KH Noer Alie dicoba terapkan dalam Attaqwa, lembaga pendidikan yang didirikannya. Secara formal, Attaqwa adalah lembaga pendidikan Islam yang berusaha menjalankan nilai-nilai keislaman dalam bidang pendidikan. Sejauh pengetahuan saya, KH Noer Alie sendiri tak pernah menjelaskan konsepnya tentang pendidikan Islam. Tapi kita bisa melihat pandangannya tentang persoalan ini dari bagaimana ia mendirikan, mengelola, dan mengembangkan Attaqwa.

Sebagaimana para pendidik muslim lainnya, KH Noer Alie meyakini bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia paripurna (insan kamil) yang dapat berguna bukan hanya bagi agama dan masyarakatnya, tapi juga mampu berkiprah bagi bangsa dan negaranya. Sebagai seorang pejuang, KH Noer Alie tentu mengerti betul apa makna dan peran seorang warga negara bagi bangsanya.

Jika kita berbicara tentang sistem pendidikan Islam sebagai sebuah konsep, maka kita tak lepas dari pembicaraan mengenai orientasi pendidikan secara umum. Paling tidak, ada dua orientasi pendidikan yang berjalan selama ini. Pertama, orientasi kepada negara (state-centered orientation). Dalam orientasi ini, pendidikan diposisikan sebagai sebuah alat untuk memproduksi warga negara yang baik (good citizen). Sebagai wadah yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan kenyaman semua warga, negara merasa perlu mengorientasikan pendidikan yang diselenggarakannya untuk mencetak manusia-manusia yang taat hukum. Pendidikan dalam konteks ini bersifat tunduk kepada kepentingan negara, dan bukan pada kepentingan lainnya.

Para pendidik yang berorientasi kepada negara menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, sedangkan ilmu pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial. Karena itu, pendidikan harus diorientasikan kepada kebutuhan-kebutuhan sosial yang bersifat fungsional. Dalam bentuk kecil, “sosial” adalah masyarakat pedesaan atau perkotaan. Tapi dalam bentuk besarnya, masyarakat adalah negara.

Kedua, orientasi kepada individu (person-centered orientation). Dalam orientasi ini, pendidikan ditekankan kepada penggalian dan pemberdayaan potensi individual setiap orang. Tujuan akhir dari orientasi ini adalah memproduksi manusia yang baik (good man) dan bukan hanya warga yang baik (good citizen).

Sebagian besar sistem pendidikan modern di Indonesia berorientasi kepada negara. Sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi negeri, bisa dipastikan, adalah lembaga-lembaga pendidikan yang mengorientasikan dirinya kepada negara. Sebagian lembaga pendidikan swasta, berupaya mengurangi dominasi dan kontrol negara. Sedangkan sebagian lainnya berusaha menjadi otonom dan independen dari pengaruh negara.

Pondok pesantren pada umumnya adalah lembaga pendidikan yang berorientasi kepada perbaikan individu sebagai individu (al-insan ka ma huwa). Sebagai institusi yang tidak didanai dan dikontrol oleh negara, pondok pesantren sangat peduli dengan konsep pengembangan diri (personal development) sebagai landasan kemajuan, baik bagi setiap individu, masyarakat, maupun negara.

Beberapa ahli dan pakar pendidikan di Barat, seperti Abraham Maslow, A.S Neill, dan Jean Paul Sartre meyakini bahwa orientasi kepada individu dalam bidang pendidikan jauh lebih baik daripada orientasi kepada negara.

Implikasi dari penerapan dua sistem yang berbeda itu tentu saja tidak sama. Pada sistem yang berorientasi kepada negara, pendidikan diarahkan sebagai alat untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan kebijakan-kebijakan negara. Para siswa adalah warganegara yang harus tunduk kepada sistem dan aturan yang dibuat oleh negara. Mereka dilatih bagaimana menjadi warganegara yang baik, warga yang taat hukum, aturan, dan perundang-undangan yang dibuat oleh negara.

Sementara itu, pada sistem yang berorientasi kepada individu, pendidikan diarahkan menjadi pusat pemberdayaan manusia sebagai individu yang baik (good man) pada satu sisi, dan sebagai warga negara yang baik (good citizen) pada sisi lain. Penekanan pada “good man” dan bukan pada “good citizen” karena istilah yang pertama sudah mengimplikasikan istilah yang kedua, dan tidak sebaliknya.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan yang otonom dan tidak mengikuti kurikulum pemerintah, Attaqwa sejak didirikan oleh KH Noer Alie adalah sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi kepada individu. Secara sadar, KH Noer Alie memilih untuk membuat kurikulum sendiri, karena kurikulum yang dibuat pemerintah –paling tidak hingga ketika beliau masih hidup—dinilai tidak memadai. Meskipun bayaran untuk sikap semacam ini sangat besar. Para siswa tidak memiliki ijazah formal dan terancam tak bisa melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, akibat tak memiliki ijazah negeri yang diakui negara.

Penolakan KH Noer Alie terhadap kurikulum nasional, seharusnya tidak dilihat secara hitam-putih. Pilihan-pilihan terhadap hal itu, saya kira, sangat dipengaruhi oleh zaman di mana ia hidup. Di tengah hegemoni negara yang represif dan cenderung mempersempit ruang gerak setiap kreatifitas individu, “pemberontakan” adalah pilihan yang sangat menggoda. Dan KH Noer Alie tidaklah sendirian. Sebagaimana kita lihat, hampir semua pondok pesantren atau lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki “persoalan sejarah” dengan kekuasaan (akibat warisan kolonialisme), menolak kurikulum nasional.

Dengan kata lain, pilihan KH Noer Alie itu bersifat kontekstual sesuai dengan tuntutan zamannya. Adalah sebuah kemunduran, saya kira, jika para penerusnya sekarang tetap mempertahankan ijtihad-ijtihad pendidikan beliau. Alasannya sederhana, zaman telah berubah, kondisi telah berbeda, dan tuntutan tidak sama lagi seperti dulu.





* Disampaikan dalam seminar sehari Refleksi Pemikiran dan Tindakan KH. Noer Alie. Islamic Centre Bekasi, 30 September 2001.
** Staf pengajar di Fakultas Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina, Jakarta, dan pengelola Jaringan Islam Liberal (http://www.islamlib.com).

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -