Friday, 13 April 2012

Pon-Pes At-Taqwa puteri di bangun oleh Bpk. KH. Noer Alie pada tahun 1964. dan baru di resmikan setahun kemudian, yaitu pada tahun 1965 beberapa tahun setelah berdirinya pondok pesantren putera.

Awal berdirinya pondok ini di dorong oleh rasa prihatin al-Marhum al-Maghfurlah Bpk. KH. Noer Alie, terhadap rendahnya sumber daya wanita saat itu yang merupakan implikasi dari minimnya sarana pendidikan untuk wanita, padahal wanita memiliki potensi yang tak kalah dari pria.

Di dorong niat tulus memajukan kualitas sumber daya wanita, sekaligus mewujudkan cita-cita ingin membuat sebuah perkampungan surga yang merupakan cita-cita beliau sejak kecil, akhirnya di bangunlah sekolah khusus puteri.

Untuk kegiatan belajar mengajar beliau sengaja mengalokasikannya di samping kediaman beliau, agar lebih memudahkan pengawasannya.

Dulunya pondok ini diberi nama Pon-Pes al-Baqiatus Sholihat, kemudian seiring perubahan nama yayasan p3 yang dipimpin oleh Bpk. KH. Noer Alie menjadi Yayasan at-Taqwa, pada tahun 1986. maka mengikuti induknya nama Pon-Pes al-Baqiatus Sholihat pun di ubah menjadi Pon-Pes at-Taqwa puteri. saat ini nama al-Baqiatus Sholihat di abadikan menjadi nama masjid utama di Pon-Pes at-Taqwa puteri.

SEKILAS TELAAH HISTORIS ATTAQWA PUTERI.

Awal berdirinya Pon-Pes at-Taqwa puteri hanya memiliki 7 orang santri dengan 3 orang pengajar; KH. Noer Alie sendiri, KH. Ah. Tajuddin dan KH. Ya'qub Ghani, muridnya pun baru sebatas keluarga dan penduduk sekitar. Minimnya minat penduduk untuk menyekolahkan anak perempuan mereka, karena saat itu kebiasaan mengawini anak perempuan dalam usia yang relatif masih sangat muda dan maraknya cap perawan tua bagi yang belum menikah selepas SD (SR), masih menjadi budaya yang kental dan kuat mengakar pada masyarakat Bekasi dan sekitarnya. 

Hal itulah yang menyebabkan dinginnya sambutan masyarakat pada awal mula berdirinya Pon-Pes at-Taqwa Puteri. bahkah tidak jarang santri yang di tarik berhenti oleh keluarganya sebelum selesai menamatkan jenjang pendidikan yang  saat itu hanya empat tahun, karena alasan klise tersebut.

Tentunya mengubah image masyarakat terhadap pentingnya pendidikan untuk anak-anak perempuan mereka. bahkan hal yang enteng dan tidak semudah membalik telapak tangan,. butuh kesabaran kuat, mental baja dan perjuangan yg keras. sampai KH. Noer Alie merasa perlu bersikap tegas dengan tidak menerima santri kecuali dengan perjanjian tidak akan menariknya sebelum selesai jenjang pendidikan yang kemudian di sempurnakan menjadi enam tahun.

Pelan tapi pasti, kerja keras  KH. Noer Alie dan murid-muridnya dalam waktu yang relatif singkat mulai mendapat respon positif dari masyarakat, dari tahun ke tahun jumlah santri makin meningkat, terlebih ketika masyarakat melihat kiprah alumni-alumni at-Taqwa puteri yang mampu menunjukkan nilai lebih di masyarakat.

Dukungan masyarakatpun kian membuat disamping karena sosok KH. Noer Alie yang kharismatik, kerja keras beliau mampu membuka mata dan persepsi mereka tentang pentingnya pendidikan wanita. bahkan banyak penduduk yg akhirnya mewakafkan tanah dan rumahnya.

Pon-Pes at-Taqwa Putri kini.

Sampai saat ini Pon-Pes at-Taqwa puteri memiliki -/+800 orang santri yang datang dari JABOTABEK, hingga dari luar pulau Jawa, semisal dari daerah Aceh, Riau, NTT, dan lain-lain.
Pon-Pes yang di pimpin Ustz. Hj. Atiqoh Noer MA. puteri ke-empat KH. Noer Alie ini memiliki staf pengajar yang 85% wanita dan sebagian besar di rekrut dari alumni at-Taqwa lulusan dalam dan luar negri.

Metode pengajaran yg di terapkan adalah perpaduan antara kurikulum pondok dan negeri, sesuai dengan tuntutan zaman, dimana santri tidak hanya disiapkan menguasai ilmu agama, tapi juga tidak buta terhadap ilmu umum.

Kegiatan santri selain aktifitas belajar yang di bagi 3 waktu, sekolah pagi, sekolah sore dan mengaji serta mudzakarah di malam hari, juga di isi dengan kegiatan ekstrakulikuler untuk menunjang kemampuan siswi. seperti kursus komputer, qiroat, kaligrafi, keterampilan menjahit, memasak, juga kegiatan muhadharah dan muhadarah bahasa. maulid. tahfizd quran, sampai pelatihan musik. saat ini bahkan tim angklung attaqwa puteri yg di kolaborasikan dengan alat musik organ dan rebana telah tampil di berbagai acara.

Selain kegiatan di atas, Pon-Pes at-Taqwa puteri yg di dalam hal ini di tangani PPA-wati (OSIS) setiap tahunnya menggelar acara-acara seminar atau penyuluhan-penyuluhan baik tertutup atau terbuka untuk umum, dengan menghadirkan nara sumber yg kompeten di bidangnya, seperti Bpk. dr. Boyke Dian Nugraha dan Ibu Helvi Tiana Rosa. dll.

disamping kegiatan intern dan ekstern diatas, sebagaimana layaknya sebuah pondok pesantren, pondok pesantren attaqwa puteri juga menekan pentingnya kesehatan dan kematangan rohani, santri yg ibadah melalu penerapan dan bahkan pelatihan langsung misalnya. siswi tingkat akhir (3 Aliyah) yang diberi tugas menjadi imam di setiap kegiatan sholat berjamaah, dan untuk santri tingkat akhir yang akan keluar di wajibkan mengikuti i'tikaf yg memang setiap tahunnya di adakan di masjid al-baqiatussholihat khusus untuk kaum ibu. setiap tahun tidak kurang dari 200 peserta I'tikaf.

Selain kewajiban di atas, siswi tingkat akhir Pon-Pes attaqwa puteri juga di wajibkan mengikuti praktek dakwah di daerah-daerah yang telah di tentukan. praktek pengajar, IDK dan membuat karya tulis.

Pon-Pes at-Taqwa puteri dalam usianya yg mendekati setengah abad. saat ini masih terus berbenah. pembangunan fisik masih terus berjalan seiring dengan pembangunan metodologi. tantangan bukan menyusut malah kian meningkat, apalagi letak Pon-Pes attaqwa puteri yang kian terjepit mengikuti perkembangan kota Bekasi yang merupakan salah satu kota penyangga ibu kota... Namun perjuangan tidak ada kata surut, memiki cita-cita pendiri at-Taqwa untuk membangun perkampungan surga, dan cita-cita itu bukan hanya cita-cita beliau, tapi juga cita-cita penerus beliau.


Kunjungi webnya di attaqwaputri.sch.id

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -