Friday, 11 April 2014

Aliran Jabariyah[1]
Robot-Robot Tuhan[2]

Prolog

Bismillahirrohmanirrahim.
Puji serta Syukur semoga senantiasa kita panjatkan kepada Allah Swt..
Shalawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad Saw., para Sahabatnya,  dan Pengikutnya. Mudah-mudahan kita menjadi pengikutnya hingga akhir zaman.

Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk didalamnya manusia sendiri. Selanjutnya tuhan bersifat maha kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disini timbullah pertanyaan sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan tuhan, bergantung pada kehendaknya dan kekuasaan mutlak tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya? Diberi tuhankah manusia kemerdekaan dalam mengatur hidupnya? Ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak tuhan.

Definisi Jabariyah


Kata "Jabariyah" berasal dari kata bahasa arab "Jabara" yang artinya memaksa. Dan yang dimaksud adalah suatu aliran atau kelompok yang berfaham bahwa semua perbuatan manusia bukan atas kehendak sendiri, namun ditentukan oleh Allah Swt. Dalam arti bahwa setiap perbuatan  manusia baik perbuatan buruk, jahat dan baik semuanya telah ditentukan oleh Allah Swt. dan bukan atas kehendak atau adanya campur tangan manusia.

Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Swt. sebagai Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri. Ini dapat diartikan pula bahwa manusia itu akhirnya tidak bersalah dan tidak berdosa, sebab ia hanya digerakkan oleh kekuatan atasan dimana ia tidak lain laksana robot yang mati, tidak berarti.

Sejarah Aliran Jabariyah

Faham Jabariyah ditonjolkan pertama kali dalam sejarah teologi islam oleh Al-Ja’d ibn Dirham . tetapi yang menyiarkan nya adalah Jahm ibn Safwan[3] dari Kurasan . Jahm yang terdapat dalam aliran Jabariyah ini sama dengan Jahm yang mendirikan golongan al-Jahmiah dalam kalangan murji’an sebagai sekretaris dari Syuraih ibn Al-Haris, ia turut dalam pergerakan melawan kekuasaan bani Umayyah . dalam perlawanan itu Jahm sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum mati, ditahun 131 H. aliran ini juga di sebut aliran Jahmiyah

Pendapat Jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyade (660-750 M). Yakni di masa keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya. Di sini ia bermain politik yang licik. Ia ingin memasukkan di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatannya sebagai kepala negara dan memimpin ummat Islam adalah berdasarkan "Qadha dan Qadar/ketentuan dan keputusan Allah Swt.semata" dan tidak ada unsur manusia yang terlibat di dalamnya. Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah Swt., Al-Quran itu Makhluk, dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah Swt. dengan mata kepala di hari kiamat.

Masyarakat arab sebelum islam kelihatannya dipengaruhi aleh faham Jabariyah ini. Bangsa arab, yang pada waktu itu bersifat serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, terpaksa menyesuaikan hidup mereka dengan suasana padang pasir, dengan panasnya terik matahari serta tanah dan gununnya yang gundul. Dalam dunia yang demikian , mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah dan tak berkuasa dalam menghadapi kesukaran –kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari- harinya mereka bergantung pada kehendak nature. Hal ini membawa mereka pada sifat /sikap fatalistis.

Af'al Al-'Ibad

Kaum Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan didalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham ini terikat pada kehendak mutlak tuhan . jadi nama Jabariyah berasal berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Memang dalam aliran ini terdapat faham bahwa manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa . dalam istilah inggrisnya faham ini disebut fatalism atau predestination. perbuatan-perbuatan manusia telah di tentukan dari semula oleh kada dan kadar tuhan.

Dan juga kaum Jabariyah berpendapat bahwa seorang hamba tidak mempunyai kekuasaan didalam perbuatannya dan juga manusia tidak bisa berusaha untuk merubah perubahan tersebut. Segala daya dan upaya manusia tidak bisa merubah qadha dan qadar milik Allah Swt. Baik itu perbuatan yang bersifat primer maupun perbuatan yang bersifat ikhtiari.

Kaum Jabariyah mengandaikan manusia seperti sebuah kapas yang tergantung oleh sebuah udara di sekitarnya, yang kapanpun juga bisa terbang kemana saja dan mudah diombang ambingkan. Dari pernyataan sekilas diatas penulis menyimpulkan bahwa manusia tak ubahnya seperti robot atau benda mati lainnya, yang ada hanya perbedaan bentuk saja, bukan perbedaan substansinya.

Faham yang dibawa Jahm adalah lawan ekstrim dari faham yang dianjurkan Ma'bad dan Ghailan. Manusia menurut Jahm, tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat apa-apa; manusia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan; manusia dalam perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya.
هو مجبور في افعا له لا قدرة له ولا ارادة ولا اختيا ر
Perbuatan-perbuatan diciptakan tuhan didalam diri manusia. Tak obahnya dengan gerak yang diciptakan tuhan dalam benda-benda mati. Oleh karena itu manusia dikatakan "berbuat" bukan dalam arti sebenarnya, tetapi dalam arti majazi atau kiasan; tak obahnya sebagaimana disebut, air mengalir, batu bergerak, matahari terbit dan sebagainya. Segala perbuatan manusia merupakan perbuatan yang dipaksakan atas dirinya termasuk di dalamya perbuatan-perbuatannya, seperti mengerjakan kewajiban, menerima pahala dan menerima siksaan[4].

Menurut faham ekstrim ini, segala perbuatan manusia tidak merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya. Kalau seorang mencuri umpamanya, maka perbuatan mencuri itu bukanlah terjadi atas kehendaknya sendiri, tetapi timbul karena kada dan kadar tuhan yang menghendaki demikian itu. Dengan kata kasarnya, ia mencuri bukan atas kehendaknya, tetapi tuhanlah yang memaksa dia mencuri. Manusia dalam faham ini, hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang. Sebagaimana wayang bergerak yang hanya bergerak jika di gerakkan oleh dalangnya. Demikian pula manusia bergerak dan berbuat karena digerakkan tuhan. Tanpa gerak dari tuhan manusia tidak bisa apa-apa.

Kalau faham Fatalisme yang dibawa Jahm seperti diuraikan diatas merupakan Fatalisme dalam bentuk ekstrim, Al- Syahrastani menyebutkan faham Jabariyah lain yang bersifat moderat. Faham itu dibawa oleh al-husain ibn muhammad an-najjar. Menurut annajjar , tuhanlah yang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan yang jahat maupun prbuatan yang baik, tetapi manusia mempunyai bahagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatan itu. Tenaganya diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dan inilah yang dimaksud dengan Kasb atau Acquistion[5]. Faham yang sama diberikan oleh dirar Ibnu 'Amr ketika ia katakan bahwa perbuatan-perbuatan manusia pada hakekatnya diciptakan tuhan, dan di peroleh(acquired, iktasaba) pada hakikatnya oleh manusia[6].

Dalam faham yang dibawa Al-najjar dan Dirar manusia tidak lagi hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang. Manusia telah mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatannya, bagian yang efektif dan bukan bagian yang tidak efektif. Menurut faham ini tuhan dan manusia bekerjasama dalam mewujudkan perbuatan manusia. Manusia tidak semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatan-perbuatannya.

Faham Kasb Al-Najjar dan Dirrar merupakan penengah antara faham Qadariyah yang dibawa Ma'bad serta Ghailan dan faham Jabariyah yang dibawa Jahm.
Adapun ayat-ayat yang membawa kepada Jabariyah atau dijadikan dalil, seperti:
ذ لكم الله ربكم لا اله الا هو خا لق كل شيئ[7]
“Itullah Allah Swt, tuhan kami, tidak ada tuhan selain dia, pencipta segala sesuatu”
Di ayat lain Allah Swt. Berfirman:
ما كانويؤمنواالا ان يشاء الله
" Mereka sebenarnya tidak akan percaya, kecuali jika Allah Swt. menghendaki".
والله خلقكم وما تعملون
" Allah Swt. Mencitpakan kamu dan apa yang kamu perbuat".
وما اصا ب من مصيبة في الارض  ولا في انفسكم  الا في كتاب من قبل ان نبراها
" Tidak ada bencana yang menimpa bumi dan diri kami, kecuali telah ditentukan didalam buku sebelum kami wujudkan.

Tanggapan:

Ayat diatas secara zhohir menunjukkan bahwa manusia mengerjakan segala perbuatannya secara terpaksa. Akan tetapi di ayat lain seperti dihalaman selanjutnya, mengatakan bahwa manusia turut andil dalam usaha memperoleh sebuah perbuatan yang diinginkannya. Hal ini tidak menunjukkan bahwa antara ayat yang satu dengan ayat lainnya bertentangan, akan tetapi ini menunjukkan keistemawaan Al-Qur'an yang ayatnya saling menjelaskan dan melengkapi. Didalam Al-Qur'an terdapat ayat yang khosh dan 'am. Ayat yang dijadikan dalil kaum Jabariyah adalah ayat 'am, yang perlu dijelaskan dengan ayat khosh, tetapi kaum Jabariyah menelan mentah-mentah ayat tersebut tanpa dipadukan dengan ayat yang khosh.dan kaum Jabariyah mengambil ayat diatas secara Tekstual tanpa dikaji lagi. Hal ini menunjukkan bahwa kaum Jabariyah adalah ajaran yang bathil.

Adapun dalil logika yang bisa dijadikan dalil oleh kaum Jabariyah yaitu:

1)   Bahwa Allah Swt. Maha mengetahui dan maha berkehendak atas segala perbuatan manusia, segala yang diketahui dan dikehendaki Allah Swt. semuanya harus terkait dengan qudratnya,dan perbuatan manusia semuanya terkait dengan qudratnya Allah swt. Maka disinilah ada keterkaitan, bahwa segala perbuatan manusia itu berpangkal dari qudratnya Allah Swt, oleh karena itu Allah Swt.lah yang menciptakan semua perbuatan manusia, dan manusia hanya menjalankannya tanpa daya dan upaya,[8] dalam bahasa kasarnya manusia seperti robot-robot tuhan.

Tanggapan:

a).Dalil diatas menunjukkan bahwa, Allah Swt. lah yang mengetahui semua perbuatan manusia dan kejadiannya, tanpa upaya manusia untuk beriktiar. Hal ini menunjukkan bahwa manusia terpaksa didalam melaksanakan semua perbuatannya. Hal tersebut terdapat ketidak selarasan antara kata Al-'Ilmu Al-Qadim dengan Al-Jabar. Karena manusia telah diizinkan mengetahui beberapa hal yang diizinkan oleh Allah Swt. Itupun atas kehendak Allah Swt. Dan ketentuannya, maka dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada paksaan didalam perbuatan manusia dan yang dimaksud 'Ilmu Azali yaitu sesuatu yang terkait dari upaya manusia didalam mengerjakan semua ketentuan Allah Swt..

b).'Ilmu Illahi bukanlah sebuah sifat yang otoritas didalam menciptakan semua perbuatan manusia, akan tetapi ia adalah sebuah ilmu inkasyaf, artinya Allah Swt. Hanya menciptakan semua perbuatan, baik yang buruk maupun yang baik. Dan manusialah yang menentukan dan berusaha didalam perbuatan yang ia inginkan.

2). Allah Swt. adalah pencipta seluruh makhluknya termasuk manusia, tidak ada yang dapat menandinginya dan menyerupainya, maka wajib bagi Allah Swt. Untuk menciptakan semua perbuatan makhluknya tanpa terkecuali, dan juga tidak boleh adanya pencipta selainAllah Swt..[9]

Tanggapan:

Allah Swt. Berfirman:
كا نوالا يتناهون عن منكر فعلوه لبئس ما كانوا يفعلون

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia ikut andil didalam semua perbuatannya. Dan perbuatan manusia terjadi setelah manusia itu sendiri yang memilihnya.

Bantahan atas jabariyah

Perkataan kaum Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia tidak ada kemerdekaan didalam mengerjakan semua perbuatannya dan tidak ada daya dan upaya dalam mengerjakan atau meninggalkannya, maka pernyataan tersebut salah. Alasannya karena dengan pernyataan tersebut secara tidak langsung, manusia disamakan dengan benda mati yang tidak mempunyai daya upaya sama sekali. Dari sini kita sudah dapat menarik kesimpulan bahwa pernyataan tersebut salah, manusia diciptakan dengan segala keterikatan dengan penciptanya berbeda dengan benda-benda mati, seperti manusia mempunyai kewajiban atau keharusan yang harus dijalankan ketika ia sudah baligh. Dan juga manusia terkait dengan hukum-hukum Allah Swt., seperti pahala, dosa, dan lain sebagainya.

Bantahan-bantahan Jabariyah delam berbagai perspektif:

1). Bantahan dalam perspektif Al-Qur'an
جزاءا بما كا نوا يعملون[10]
“Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan”
لم تقولون مالا تفعلون[11]
“Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan”

ان الذ ين امنوا وعملوا الصالحات كا نت لهم جنات الفردوس نزلا[12]
“Sungguh orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan untuk mereka disediakan Surga Firdaus sebagai tempat tinggal”

2). Bantahan dalam perspektif substansi akal dan nalar

Ketika pernyataan kaum Jabariyah kita benturkan dengan akal kita, sudah jelas bahwa pernyataan itu salah. Hal ini bisa dianalogikan antara seorang yang sehat dan seorang yang sakit. Seorang yang sehat bisa berbuat semaunya, dengan usaha yang dimilikinya, seperti berjalan, makan,dan lain sebagainya. Adapun orang yang sakit, ketika ia mau jalan, ia harus berusaha sekuat tenaga bahkan dia tidak bisa berdiri. Hal ini menunjukkan bahwa manusia ikut andil dalam perbuatannya, dengan arti bahwa manusialah yang memilih perbuatan mana saja yang ia ingin kerjakan.

3). Bantahan dalam Perspektif Bahasa

Mujabbir dalam bahasa yaitu terjadinya sebuah perbuatan yang tidak diinginkan sama sekali dan juga bukan tujuan dari pelakunya. Maka dari definisi diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa mazhab Jabariyah adalah mazhab bathil. Karena dari bergeraknya, usahanya, tujuannya sipelaku, Itu menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bukan perbuataan yang dipaksa, justru perbuatan itu disebut perbuatan ikhtiari.[13]

Kesimpulan

1).kaum Jabariyah  adalah kaum yang berbeda atau dalam kasarnya kaum yang sesat. Karena kaum Jabariyah adalah kaum yang mengatakan bahwa semua perbuatan telah ditentukan oleh Allah Swt. Manusia tidak ada daya upaya didalam perbuatannya, baik yang bersifat buruk atau baik. Seperti yang diceritakan oleh Syekh 'Abdullah bin Umar didalam ceritanya bahwa ada sekelompok yang selalu mabuk, mecuri, membunuh. Ketika ia ditanya oleh 'Abdullah bin Umar, kaum itu beralasan bahwa bukan ia yang menginginkan perbuatan tersebut akan tetapi tuhanlah yang menggerakkan mereka didalam mengerjakannya.

2).perkataan kaum Jabariyah tentang persamaan manusia dengan benda mati adalah salah. Karena jika manusia seperti benda mati, segala hukum yang terkait dengan hukum dan perundang-undangan islam batal. Hal ini terjadi lantaran manusia tidak mempunyai kesanggupan didalam melakukan perbuatannya sendiri.

3). Salah satu hikmah penciptaan manusia adalah untuk berusaha didalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah Swt.:
الذ ي خلق الموت والحياة ليبلوكم ابكم احسن عملا

Ru'yatullah

Secara garis besar aliran jabariyah sepakat dengan aliran mu’tazilah didalam menafikan melihat allah swt.bagaimanapun keadaannya dan kapanpun juga. Akan tetapi jabariyah berpendapat bahwa seorang hamba bisa melihat atau mengetahui Allah Swt. dengan indera keenam yaitu hati. Karena hanya dengan hati seorang hamba bisa melihat substansinya tuhan.  Atau dalam tasawwuf disebut ilmu Ma’rifat. karena kalaulah Allah Swt. Bisa dilihat dengan mata dzahir maka Allah Swt. sama dengan makhluk lainnya yang bisa dilihat dengan mata dzahir.

Aliran Jabariyah berpendapat bahwa Allah Swt. Tidak bisa dilihat dengan mata yang dzhahir,dimanapun, kapanpun.seperti didunia, alam mimpi maupun diakhirat. Karena jika Allah Swt. Dapat dilihat dengan mata kepala ,berarti Allah Swt. Ada disuatu tempat, atau Allah Swt seperti manusia. Dan itu semua mustahil bagi Allah Swt., Adapun semua yang mustahil itu menunjukkan sesuatu yang mustahil pula.

Dalil-dalil kaum Jabariyah

1).Dalil Naqli
a). Al-Qur’an                             
  لا تدرك الا بصار وهو يدرك الا بصاروهو اللطيف الخبير[14]
“Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala penglihatan itu dan dialah yang maha halus lagi maha teliti”
رب ارني انظر اليك قال لن تراني [15]            
“ Ya tuhanku, tampakkanlah dirimu kepadaku agar aku dapat melihat engkau. Allah Swt. berfirman: engkau tidak akan sanggup melihatku.”
b). Dalil Aqli
- Kalaulah Allah Swt. bisa dilihat dengan mata kepala, maka allah Swt. seperti manusia atau Allah Swt. berdiam di suatu tempat. Hal yang demikian itu musahil, dan sesuatu yang menunjukkan mustahil maka mustahil.
Epilog

 Setelah kita bahas dan ulas masalah Af’alul Ibad dan Ru’yatullah dalam perspektif aliran  Jabariyah, dengan makalah sederhana ini. Penulis merasa bahwa tidak akan cukup dengan tulisan dikertas yang terbatas ini mencakup semuanya. Mungkin kita akan membutuhkan beratus-ratus lembar untuk menjelaskan secara detail dan terperinci. Banyak sekali buku yang menjelaskan tentang Af’alul Ibad dan Ru’yatullah dalam Perspektif aliran Jabariyah, sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menelaah dan membacanya dengan suatu harapan kita dapat memecahkan persoalan  yang berada disekitar kita dengan ajaran  yang sesuai dengan hati dan kebenaran islam.

Mungkin tulisan ini bukanlah sebagai patokan yang harus kita ikuti begitu saja, karena mungkin apa yang ada di makalah ini  banyak sekali kesalahan dan kekhilafan yang mestinya itu tidak dipaparkan.

Sebagai ummat islam kita patut bersyukur dengan segala kenikmatan yang telah Allah Swt. Berikan kepada kita, yang mana kesyukuran dan kenikmatan itu tidak akan ditemukan dalam agama lainnya selain islam. Semoga dengan ini kita dapat lebih meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah Swt..
Wallahu 'alam bi shawab.














Daftar pustaka
-          Al-qur’an dan terjemahnya, dar al-sunnah
-          Duktur Abdurrahman Abdullah As Syaikh,Al Qadho Wal Qodar Fi Fajri Al-Islam Wa Dhahahu Al-Qur'an Ats-Tsalatsatu Al-Ula,Al-Himmah Al-Mishriyyah Al-'Ammah Lil Kitab 1998 M
-          Harun Nasution , Teologi Islam Aliran-Aliran  Sejarah Analisa Perbandingan, UI Presscetakan,cet: Ke5 , 1986

-          Ma’bad ‘Ali Faragli, min ‘Aqaid At-Tauhid, ,Dar At-Thoba’ah Al-Mahmudiyah, cet I, 2000 M.

-          Syekh Abu Mansur Abdul Qahar bin Thahir bin Muhammad Al-Baghdadi,Al -Farqu bayna Al -Firaq, dar At-Thala’i, 2005 M.

-          DasukiThaha Habiysyi, Al-Janib Al-Ilahi fi Fikri Al-ImamAl-Ghazali, Al-Azhar Press, 2008 M.

-          Syekh Abi Al-Hasan ‘Ali bin Ismail Al-Asy’ari, Al- Ibanah, dar An-Nafais, cet: 1,1994 M.

-          Syekh Syarastani, Milal wa Nihal.

-          Imam Baijuri,  Tuhfah Al-Murid‘ala Jauharah At-Tauhid, dar As-Salam, cet: IV, 2oo8 M.



 Kajian Pemikiran
Departemen Intelektual IKPMA
Ahad, 11 April 2010










[1]  . Makalah yang sederhana ini dipresentasikan pada Kajian Pemikiran, tanggal 11 april 2010 M.
2 .  Mahasiswa Al-Azhar jurusan Syariah Islamiyah.
3.  Dia adalah: Abu Mahraj Jahm bin Shafwan Al-Rasabi

[4] . Al-Milal, 1/87.
[5] . Al-Milal, 1/89, Maqalat, 1/315 dan Al- Farq, 208.
[6] . Al-Milal, 91, Maqalat,1/313, Al-Iarq, 214 dan Infra, 101.
[7] . QS. Al-An'am, 102.
[8] . Pelajaran Aqidah Islamiyah dan Akhlak,cet, dar Al-Thaba'ah Al-Mahmudiyah, hal:95.
[9] . Al-Fashl, Ibnu Hazm, 3/23, cet: dar Al-Fikr.
[10] . QS. Al-Waqiah, 24.
[11] .QS. Al-Shaf, 2.
[12] .QS. Al-Kahfi, 107.
[13] . Al-Fashl, Ibnu Hazm,3/24.
[14] . QS. Al-An’am: 103.
[15] . QS. Al-‘Araf: 143.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -